
Tingkat membaca di China Naik di tengah pesatnya perkembangan membaca digital

Orang-orang membaca buku di Perpustakaan Beijing di Distrik Tongzhou, Beijing, ibu kota China, pada 15 Agustus 2025. (Xinhua/Li Xin)
Tren membaca digital terus berkembang, dengan volume membaca per kapita buku cetak maupun buku elektronik (e-book) di China mencapai 8,39 eksemplar pada 2025, sementara jumlah total karya bacaan digital melampaui 70 juta judul.
Nanchang, China (Xinhua/Indonesia Window) – Di tengah tren membaca digital yang terus berkembang, tingkat membaca secara keseluruhan di kalangan orang dewasa China naik menjadi 82,3 persen pada 2025, demikian menurut sebuah survei nasional yang dirilis pada Senin (20/4).
Angka tersebut, yang naik 0,2 poin persentase dari tahun sebelumnya, menegaskan upaya China dalam membangun masyarakat yang gemar membaca.
Survei itu, yang diluncurkan oleh Akademi Pers dan Publikasi China (Chinese Academy of Press and Publication), diumumkan dalam Konferensi Nasional tentang Membaca kelima yang digelar di Nanchang, Provinsi Jiangxi, China timur.
Survei tersebut menemukan bahwa volume membaca per kapita buku cetak maupun buku elektronik (e-book) di China mencapai 8,39 eksemplar pada 2025, sementara jumlah total karya bacaan digital melampaui 70 juta judul.
Survei itu juga menemukan bahwa tahun lalu, 80,8 persen orang dewasa China melaporkan melakukan kegiatan membaca digital. Semakin banyak orang beralih ke buku audio dan ulasan buku dalam bentuk video, dengan angkanya meningkat dari 38,5 persen dan 5,7 persen pada 2024 menjadi masing-masing 38,7 persen dan 6,3 persen pada 2025.
Permintaan yang kuat telah mendorong perkembangan pasar. Menurut survei tersebut, pasar membaca digital secara umum di China naik hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, tumbuh dari 30,25 miliar yuan menjadi 59,48 miliar yuan.
*1 yuan = 2.517 rupiah
Namun demikian, buku cetak tetap memiliki daya tarik, dengan 45,9 persen orang dewasa China masih lebih menyukai buku fisik daripada format membaca lainnya. Sementara itu, dalam hal konten, sastra menjadi yang paling diminati.
Hal ini mencerminkan bahwa meski menikmati kemudahan membaca digital, kebutuhan masyarakat akan pemikiran yang mendalam, pembelajaran yang sistematis, dan penanaman nilai-nilai spiritual tidak berkurang.
Wu Shulin, Ketua Asosiasi Penerbit China (Publishers Association of China), meyakini bahwa di era digital, membaca mendalam tetap menjadi landasan bagi pertumbuhan pribadi, kesuksesan karier, dan pembinaan moral.
Dia menyerukan panduan yang lebih kuat terkait membaca digital serta upaya untuk menumbuhkan budaya membaca mendalam, dengan mendorong pembaca untuk beralih dari "penelusuran terfragmentasi" ke "membaca secara mendalam".
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kesehatan mental terabaikan saat 1 miliar orang hidup dengan gangguan jiwa
Indonesia
•
29 Aug 2020

Fokus Berita: Diskusi kelompok di Sumut bertekad tingkatkan pendidkan berkualitas
Indonesia
•
17 Nov 2022

Israel makin batasi gerak kemanusiaan di Gaza
Indonesia
•
25 Jul 2025

Feature – Legenda Pulau Kemaro sebagai simbol harmoni dan budaya Tionghoa di Sumatra Selatan
Indonesia
•
10 Aug 2025


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
