
Twitter tak aman di bawah Elon Musk, sebut mantan kepala keamanan

Ilustrasi. (Joshua Hoehne on Unsplash)
Twitter di bawah Musk mulai menyimpang dari kepatuhannya pada kebijakan tertulis dan tersedia untuk umum terhadap keputusan konten yang dibuat secara sepihak oleh Musk.
Jakarta (Indonesia Window) – Mantan kepala kepercayaan dan keamanan (head of trust and safety) Twitter Yoel Roth pada Selasa (29/11) memperingatkan bahwa perusahaan media sosial itu tidak lebih aman di bawah pemilik baru Elon Musk.Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara pertamanya sejak mengundurkan diri bulan ini, menegaskan bahwa perusahaan itu tidak lagi memiliki cukup staf untuk sektor keselamatan (safety).Roth mencuit setelah pengambilalihan Musk bahwa dengan beberapa langkah, keamanan Twitter telah meningkat di bawah kepemilikan miliarder itu.Namun, saat ditanya dalam sebuah wawancara di konferensi Knight Foundation pada Selasa, apakah dia masih berpikir demikian, Roth berkata, "Tidak."Roth adalah seorang veteran Twitter yang membantu mengarahkan platform media sosial melalui beberapa keputusan penting, termasuk langkah untuk menangguhkan secara permanen pengguna paling terkenalnya, mantan Presiden AS Donald Trump, tahun lalu.Kepergiannya semakin mengguncang pengiklan, banyak di antaranya mundur dari Twitter setelah Musk memberhentikan setengah dari karyawan, termasuk mereka yang terlibat dengan moderasi konten.Sebelum Musk mengambil alih kepemimpinan di Twitter, sekitar 2.200 orang di seluruh dunia fokus pada pekerjaan moderasi konten, kata Roth. Dia mengaku tidak mengetahui lagi jumlah ini setelah akuisisi karena direktori perusahaan sudah dimatikan.Twitter di bawah Musk mulai menyimpang dari kepatuhannya pada kebijakan tertulis dan tersedia untuk umum terhadap keputusan konten yang dibuat secara sepihak oleh Musk, yang dikutip Roth sebagai alasan pengunduran dirinya."Salah satu batasan saya adalah jika Twitter mulai diatur oleh dekrit diktator daripada kebijakan ... saya tidak perlu lagi berperan di dalamnya," katanya.Perubahan langganan premium Twitter Blue, yang akan memungkinkan pengguna membayar tanda centang terverifikasi di akun mereka, diluncurkan meskipun ada peringatan dan saran dari tim kepercayaan dan keamanan, kata Roth.Peluncuran tersebut dengan cepat dilanda spammer yang menyamar sebagai perusahaan publik besar seperti Eli Lilly, Nestle dan Lockheed Martin.Roth juga mengatakan pada Selasa (29/11) bahwa Twitter keliru dalam membatasi penyebaran artikel New York Post yang membuat klaim tentang putra calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden sesaat sebelum pemilihan presiden 2020.Namun dia membela keputusan Twitter untuk menangguhkan Trump secara permanen karena risiko hasutan kekerasan lebih lanjut setelah kerusuhan di U.S. Capitol pada 6 Januari 2021.“Kami melihat contoh paling jelas tentang bagaimana hal-hal berubah dari online ke offline,” kata Roth. "Kami melihat orang-orang tewas di Capitol."Musk men-tweet pada 19 November bahwa akun Trump akan dipulihkan setelah mayoritas tipis memilih untuk mendukung langkah tersebut dalam jajak pendapat Twitter yang mengejutkan.Sumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China tegas tolak standar ganda dalam kontraterorisme
Indonesia
•
28 Dec 2023

Fokus Berita – Mengapa AS dan Arab Saudi tiba-tiba bersatu menyerang Irak? Ini yang dikhawatirkan para analis
Indonesia
•
31 Jul 2026

Suriah tegaskan Dataran Tinggi Golan wilayahnya, perundingan dengan Israel digelar di Yordania
Indonesia
•
24 Aug 2026

Trump desak Iran hentikan serangan rudal ke Israel dan kembali ke meja perundingan
Indonesia
•
08 Jun 2026


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
