Feature – Varietas kopi paling 'underrated' di dunia bersinar di Provinsi Jambi

Varietas kopi paling terabaikan

Seorang petani memetik ceri biji kopi robusta di sebuah perkebunan di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, pada 24 Agustus 2025. (Xinhua/Yulham)

Varietas kopi paling terabaikan di dunia, Liberika, berkembang pesat di dataran rendah pesisir Jambi, tempat tanah yang dalam, tergenang air, dan bersifat asam.

Tanjung Jabung Barat, Jambi (Xinhua/Indonesia Window) – Di daerah lahan gambut yang tenang di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, terjadi sebuah transformasi yang tak kentara namun signifikan di kalangan petani kecil yang telah lama membudidayakan salah satu varietas kopi paling terabaikan di dunia, Liberika.

Selama puluhan tahun, kopi Liberika masih kurang diperhatikan dalam budaya kopi global. Namun, di dataran rendah pesisir Jambi, tempat tanah yang dalam, tergenang air, dan bersifat asam menjadi tantangan bagi sebagian besar tanaman komersial, pohon kopi Liberika yang kokoh justru tumbuh subur. Akar yang dalam, postur yang tinggi, dan ketahanannya membuat tanaman ini memiliki ikatan erat dengan memori budaya masyarakat setempat.

Para petani di Tanjung Jabung Barat bahkan memiliki nama yang mencerminkan keterkaitan ini, yakni kopi liberika tungkal, yang menghubungkan erat biji kopi tersebut dengan identitas regional dan warisan budaya mereka.

"(Pohon kopi) Liberika dapat bertahan di lingkungan di mana pohon kopi lain mati," ungkap Harihadi (41), seorang petani kopi asal Desa Mekar Jaya. "Kopi ini merupakan bagian dari lanskap kami. Sudah menjadi bagian dari sejarah keluarga kami."

Selama lebih dari delapan tahun, Harihadi mengelola sebuah kafe komunitas di desanya. Kafe tersebut telah berkembang menjadi pusat kreativitas dan interaksi, sebuah ruang yang ‘hidup’ dan jauh berbeda dari kondisi lahan tersebut sebelumnya.

"Sebelum kafe ini dibangun, tempat ini hanyalah alam liar," kenangnya.

Kini, kafe tersebut menjadi tempat menggelar lokakarya barista, pameran seni, pertunjukan musik langsung (live), dan pertemuan kaum muda. Kafe ini juga telah menjadi simbol bagaimana sebuah komunitas dan tanaman tradisionalnya dapat berkembang bersama.

Namun demikian, pergeseran menuju kopi Liberika bernilai tambah tidaklah mudah. Selama bertahun-tahun, para petani hanya menjual biji kopi hijau karena tidak memiliki peralatan, keterampilan, dan akses pasar yang diperlukan untuk mengolah serta memasarkan produk yang bernilai lebih tinggi.

Perubahan dimulai pada 2016 dengan keterlibatan PetroChina International Jabung Ltd. Perusahaan yang mengoperasikan Wilayah Kerja Jabung (Jabung Working Area), salah satu blok minyak dan gas utama di Jambi, tersebut mulai bekerja sama dengan para petani Mekar Jaya. Perusahaan itu, yang merupakan anak perusahaan internasional China National Petroleum Corporation, memperkenalkan pelatihan dan dukungan untuk membantu para petani mengolah, memasarkan, dan mempromosikan kopi Liberika sebagai kopi istimewa atau specialty coffee.

Sejak 2017, inisiatif-inisiatif pengembangan masyarakat dari PetroChina berfokus pada penguatan setiap tahapan dalam rantai nilai kopi Liberika, mulai dari pengolahan pascapanen dan pengendalian penyakit hingga budi daya berkelanjutan. Meskipun kopi Liberika diproduksi dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan kopi Arabika atau Robusta, cita rasanya yang khas telah menempatkan kopi tersebut sebagai produk istimewa yang sedang naik daun.

Minat pasar pun meningkat seiring perkembangan tersebut. Harga biji kopi Liberika hijau lokal kini mencapai sekitar 85.000 rupiah per kilogram, mencerminkan meningkatnya permintaan dan terbatasnya persaingan nasional. Di Mekar Jaya, tempat kopi Liberika sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, para petani mengatakan bahwa biji kopi mereka semakin dikenal sebagai produk premium.

Ahmad Ramadlan, pengawas pengembangan masyarakat dan tanggung jawab sosial perusahaan di PetroChina International Jabung Ltd., mengatakan bahwa visi perusahaan itu melampaui sekadar pemasaran kopi.

"Kopi Liberika bukan sekadar komoditas, tetapi juga identitas regional," ungkap Ramadlan. "Kami tidak hanya membangun sebuah outlet, tetapi juga membangun kapasitas para petani dan UMKM agar mereka dapat menjadi mandiri, tumbuh lebih kuat, dan berinovasi dari hulu hingga hilir."

Di Mekar Jaya, visi tersebut sudah mulai terwujud.

Di kafe milik Harihadi, muda-mudi berdatangan untuk mencicipi, mempelajari, dan bereksperimen, sementara para petani berbicara dengan kebanggaan baru tentang tanaman mereka. Di seluruh lahan gambut yang tergenang air di Tanjung Jabung Barat, biji kopi yang dulunya terabaikan itu kini tengah membuka jalan menuju masa depan, didukung oleh tradisi, ketahanan, dan keyakinan yang semakin kuat bahwa momen bagi kopi Liberika untuk bersinar telah tiba.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait