Maduro akan ditahan di pusat penahanan di New York

Venezuela siap mempertahankan sumber

Presiden Venezuela Nicolas Maduro berbicara dalam konferensi pers di Caracas, Venezuela, pada 15 September 2025. (Xinhua/Kepresidenan Venezuela)

Venezuela siap mempertahankan sumber daya alamnya dan tidak akan pernah menjadi koloni negara mana pun atau budak imperium mana pun.

New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang ditangkap dalam serangan militer besar-besaran Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1) pagi waktu setempat, akan dibawa ke Pusat Penahanan Metropolitan (Metropolitan Detention Center) di New York, demikian menurut laporan CNN.

Pesawat militer yang membawa pasangan tersebut telah mendarat di Pangkalan Udara Garda Nasional Stewart di Newburgh, Negara Bagian New York, pada Sabtu sekitar pukul 17.00 waktu setempat, atau Ahad (4/1) pukul 05.00 WIB, menurut beberapa laporan dan rekaman video.

Maduro dan beberapa orang lainnya akan menghadapi sejumlah dakwaan, yakni konspirasi terorisme narkoba (narko-terorisme), konspirasi impor kokaina, kepemilikan senapan mesin dan perangkat perusak, serta konspirasi kepemilikan senapan mesin dan perangkat perusak, pada pekan depan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan New York (U.S. District Court for the Southern District of New York), sebut sebuah surat dakwaan yang telah dibuka dan dirilis oleh Departemen Kehakiman AS pada Sabtu.

Wali Kota New York City Zohran Mamdani mengatakan dirinya telah menelepon Presiden AS Donald Trump secara langsung pada Sabtu untuk menyatakan penentangannya terhadap "upaya penggulingan rezim yang melanggar hukum federal dan internasional." Sejumlah orang juga melakukan unjuk rasa di luar pangkalan udara Newburgh untuk menentang aksi militer AS di Venezuela itu.

Dalam sebuah sidang Dewan Pertahanan Nasional Venezuela yang disiarkan oleh saluran televisi nasional negara itu pada Sabtu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menuntut "pembebasan segera" Maduro dan istrinya.

Pada Sabtu (3/1) dia menyatakan bahwa Nicolas Maduro adalah "satu-satunya presiden" negara Amerika Selatan tersebut.

Rodriguez menyampaikan pernyataan itu dalam pidato yang disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi milik negara pada Sabtu sore waktu setempat, seraya menambahkan bahwa Venezuela tidak akan pernah menjadi koloni negara mana pun.

Didampingi oleh menteri dalam negeri, menteri luar negeri, serta sejumlah pejabat lainnya, sang wapres menuntut agar Amerika Serikat membebaskan Maduro dan istrinya, serta mengimbau rakyat Venezuela untuk tetap tenang, menghadapi tantangan bersama, dan mempertahankan kedaulatan nasional.

Seraya menyatakan bahwa serangan terhadap Venezuela dapat terjadi di negara lain di kawasan tersebut pada masa mendatang, Rodriguez mengatakan Venezuela siap mempertahankan sumber daya alamnya dan tidak akan pernah menjadi koloni negara mana pun atau budak imperium mana pun.

AS melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Venezuela pada Sabtu dini hari, menangkap Maduro dan istrinya.

Presiden AS Donald Trump mengeklaim dalam konferensi pers pada Sabtu pagi bahwa Rodriguez telah dilantik sebagai presiden Venezuela, serta menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio "baru saja melakukan percakapan" dengannya.

"Pada dasarnya dia bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali hebat," klaim Trump saat berbicara kepada para reporter.

Masyarakat internasional sangat terkejut atas penyerbuan AS terhadap Maduro, serta mengecam keras penggunaan kekuatan secara terang-terangan terhadap negara berdaulat dan tindakan terhadap presidennya tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait