
Volatilitas akibat penerapan tarif AS jadi faktor meningkatnya pengangguran di Australia

Sebuah bus wisata yang diparkir di dekat Dermaga Brooke Street (Brooke Street Pier) terlihat di Hobart, Australia, pada 16 Juli 2025. (Xinhua/Ma Ping)
Volatilitas ekonomi global yang didorong oleh penerapan tarif Amerika Serikat merupakan faktor meningkatnya angka pengangguran di Australia.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Volatilitas ekonomi global yang didorong oleh penerapan tarif Amerika Serikat (AS) merupakan faktor meningkatnya angka pengangguran di Australia, ujar Menteri Keuangan Australia Jim Chalmers pada Jumat (18/7).Chalmers pada Jumat tersebut mengatakan kepada radio Australian Broadcasting Corporation (ABC) bahwa volatilitas, hal yang tidak dapat diprediksi, serta ketidakpastian yang ditimbulkan oleh penerapan tarif AS telah menjadi "fitur yang menentukan dan sedang berlangsung dalam perekonomian global" dan Australia tidak kebal dari hal tersebut.Dia menuturkan pemerintah federal telah menerima umpan balik (feedback) dari para pemimpin bisnis dan ekonom yang menyebut bahwa kebijakan perdagangan AS telah memengaruhi keputusan lokal terkait apakah akan mempekerjakan pegawai atau tidak."Saya rasa tentu saja orang-orang melihat ketidakpastian dan hal yang tidak dapat diprediksi ini sebagai kenormalan baru. Hal itu mengharuskan kita untuk mengubah cara berpikir kita," tutur Chalmers.Data resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Australia (Australian Bureau of Statistics) pada Kamis (17/7) mengungkap bahwa tingkat pengangguran di Australia meningkat dari 4,1 persen pada Mei 2025 menjadi 4,3 persen pada Juni 2025, angka tertinggi sejak November 2021.Chalmers pada Jumat itu menyampaikan bahwa meningkatnya angka pengangguran tersebut tidak diharapkan namun bukanlah hal yang mengejutkan, dengan pemerintah memperkirakan angka tersebut akan meningkat lebih lanjut namun masih tercatat di bawah angka 5 persen.Menteri keuangan Australia tersebut melontarkan hal itu di Afrika Selatan saat dirinya menghadiri pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Kelompok 20 (Group of 20/G20) di Durban.Dia mengatakan bahwa "tentu saja" terdapat kesan dalam diskusi bilateral dan pertemuan yang lebih besar bahwa penerapan tarif AS tersebut merupakan hal yang tidak beralasan, tidak perlu, dan tindakan ekonomi yang merugikan diri sendiri.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Indeks kepercayaan konsumen Indonesia menguat pada November 2024
Indonesia
•
11 Dec 2024

Minyak naik, kekhawatiran pasokan di seluruh dunia jadi perhatian
Indonesia
•
28 Apr 2022

Bisnis di Australia hadapi tekanan akibat kelangkaan bahan bakar
Indonesia
•
26 May 2026

Inflasi AS melonjak 9,1 persen pada Juni, tertinggi selama empat dekade
Indonesia
•
15 Jul 2022


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
