
WHO nyatakan mpox bukan lagi darurat kesehatan masyarakat global

Sejumlah staf memantau suhu tubuh penumpang di Terminal 1 Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 28 Agustus 2024. Malaysia meluncurkan langkah-langkah yang ditujukan untuk memerangi penyebaran cacar monyet (mpox), termasuk pemasangan pemindai termal di sejumlah titik masuk internasional, seperti bandara, kata Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad pada Rabu (28/8). (Xinhua/Chong Voon Chung)
Wabah mpox di luar wilayah endemis tradisional di Afrika berubah menjadi Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional, tingkat kewaspadaan tertinggi yang dapat dikeluarkan oleh WHO.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Penyebaran cacar monyet (mpox) di Afrika tidak lagi menjadi Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC), kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (5/9).Komite Darurat WHO telah melakukan pertemuan rutin setiap tiga bulan untuk mengevaluasi wabah mpox. "Kemarin, mereka bertemu lagi dan memberi tahu saya bahwa menurut pandangan mereka, situasi ini tidak lagi merupakan darurat kesehatan internasional. Saya pun menerima saran tersebut," ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam jumpa pers pada Jumat."Keputusan ini didasarkan pada penurunan angka kasus dan kematian yang berkelanjutan di Republik Demokratik Kongo, dan di negara-negara lain yang terdampak termasuk Burundi, Sierra Leone, dan Uganda," kata Tedros."Kami juga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor pendorong penularan, faktor risiko keparahannya, dan negara-negara yang paling terdampak telah mengembangkan kapasitas respons berkelanjutan," ujarnya.Namun, WHO juga menyatakan bahwa pencabutan deklarasi darurat tidak berarti ancaman telah berakhir, "atau bahwa respons kami akan berhenti, dan kami mencatat keputusan CDC Afrika kemarin yang menyatakan mpox tetap menjadi darurat kontinental."Kemungkinan wabah berkelanjutan dan wabah baru masih ada, sehingga membutuhkan pengawasan dan kapasitas respons yang memadai. Upaya berkelanjutan diperlukan guna melindungi kelompok yang paling rentan, terutama anak-anak dan orang dengan HIV.Mpox merupakan jenis penyakit zoonosis virus. Gejala awal infeksi pada manusia meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, dan pembengkakan kelenjar getah bening, yang kemudian dapat berkembang menjadi ruam yang menyebar luas di wajah dan tubuh. Sebagian besar individu yang terinfeksi pulih dalam beberapa pekan, tetapi beberapa mungkin mengalami penyakit parah atau bahkan kematian.Sejak Mei 2022, lebih dari 100 negara dan kawasan di seluruh dunia telah melaporkan kasus mpox. WHO secara resmi menyatakan pada Agustus tahun lalu bahwa wabah mpox di luar wilayah endemis tradisional di Afrika berubah menjadi PHEIC, tingkat kewaspadaan tertinggi yang dapat dikeluarkan oleh otoritas kesehatan global itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan PBB: Krisis ekonomi memburuk di wilayah Palestina yang diduduki
Indonesia
•
14 Sep 2024

PBB: Ribuan anak dikhawatirkan tewas akibat gempa di Turkiye dan Suriah
Indonesia
•
17 Feb 2023

Studi sebut jutaan anak di AS tak miliki jaminan kesehatan yang memadai
Indonesia
•
29 Nov 2023

Sempat buat kesalahan, atlet ‘freeski’ China Gu Ailing maju ke final ‘halfpipe’ putri Olimpiade Milan-Cortina
Indonesia
•
20 Feb 2026


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
