
Misi Chang'e-7 China akan mendarat di Kutub Selatan Bulan untuk cari es air

Foto yang diambil dari animasi video di Pusat Kendali Antariksa Beijing (Beijing Aerospace Control Center/BACC) pada 4 Juni 2024 ini menunjukkan kombinasi wahana pendarat-pendaki (lander-ascender) Chang'e-6 yang sedang menunggu waktu lepas landas dari permukaan Bulan. (Xinhua/Jin Liwang)
Wahana antariksa Chang'e-7 dapat menganalisis medan pendaratannya secara otonomos, dengan lebih dari separuh pengoperasiannya dilakukan secara independen tanpa memerlukan intervensi dari Bumi.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Wahana Bulan Chang'e-7 milik China, yang dijadwalkan akan diluncurkan pada 2026 mendatang, akan menargetkan kutub selatan Bulan untuk mencari es air dan menguji teknologi canggih yang sangat penting dalam aktivitas manusia yang berkelanjutan di Bulan, lapor China Media Group pada Senin (3/2).Menggunakan wahana peloncat (hopper) yang inovatif dan dilengkapi dengan alat analisis molekul air, misi ini bertujuan untuk mengonfirmasi keberadaan dan distribusi es air di dalam kawah-kawah yang mengalami kegelapan abadi (permanently shadowed craters), urai laporan tersebut.Misi Chang'e-3 dan Chang'e-5 berhasil mendarat di sisi dekat Bulan, sementara Chang'e-4 dan Chang'e-6 mencatatkan pendaratan bersejarah di sisi jauh Bulan. Oleh karena itu, Chang'e-7 yang direncanakan mendarat di kutub selatan Bulan akan menguji kemampuan wahana Bulan milik China tersebut untuk menjangkau daerah mana pun di Bulan, ungkap Tang Yuhua, wakil kepala perancang misi Chang'e-7, dalam wawancara.Jika es air di Bulan berhasil ditemukan, hal itu dapat secara signifikan mengurangi biaya dan waktu yang diperlukan untuk mengangkut air dari Bumi, sehingga memfasilitasi pendirian pangkalan manusia untuk aktivitas jangka panjang di Bulan serta memungkinkan eksplorasi lebih lanjut ke Mars atau antariksa-dalam (deep space), tutur Tang.Menurut Wu Weiren, kepala perancang program eksplorasi Bulan China, wahana antariksa Chang'e-7, yang terdiri dari wahana pengorbit (orbiter), wahana pendarat (lander), wahana penjelajah (rover), dan mobile hopper, akan menghadapi berbagai tantangan ekstrem, termasuk suhu di bawah minus 100 derajat Celsius dan medan yang kompleks.Wahana peloncat (hopper), yang merupakan penjelajah Bulan pertama dari jenisnya, akan "meloncat" dari area-area yang terpapar matahari hingga ke kawah gelap untuk melakukan analisis mendetail. Wahana pendarat akan menggunakan sistem "navigasi citra tengara" (landmark image navigation) antariksa-dalam pertama buatan China untuk memastikan presisi, sedangkan hopper memanfaatkan teknologi penyerapan guncangan aktif untuk mendarat dengan aman di lereng, kata laporan itu.Wahana antariksa Chang'e-7 dapat menganalisis medan pendaratannya secara otonomos, dengan lebih dari separuh pengoperasiannya dilakukan secara independen tanpa memerlukan intervensi dari Bumi. Panel-panel surya yang dipasang secara vertikal di wahana antariksa itu sedang dioptimalkan agar bisa menangkap sinar matahari sudut rendah di dekat kutub Bulan, ujar Tang. Dia menambahkan bahwa misi ini telah memasuki fase perakitan dan pengujian akhir.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Konferensi Robot Dunia 2023 akan digelar di Beijing
Indonesia
•
06 Jul 2023

Peneliti BRIN ungkap Pulau Sumba dihuni manusia sejak 2.800 tahun silam
Indonesia
•
21 Jul 2024

Satu set alat musik dari Kerajaan Yue kuno ditemukan di China timur
Indonesia
•
14 Jun 2023

Peneliti China tingkatkan efisiensi sel perovskite secara signifikan
Indonesia
•
10 Aug 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
