DeepSeek China luncurkan kotak hitam AI dan dorong transparansi

Para siswa mengikuti pelajaran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sebuah sekolah menengah pertama di Liuzhou, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, pada 2 September 2024. (Xinhua/Li Hanchi)
AI dapat belajar mengartikulasikan proses penalaran, yang disempurnakan bukan melalui anotasi manusia, melainkan melalui proses trial-error-reward, atau pembelajaran penguatan (reinforcement learning).
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – DeepSeek, model bahasa besar sumber terbuka (open-source) China, menjadi sorotan utama dalam sampul jurnal penelaahan sejawat (peer-reviewed) terkemuka pada Rabu (17/9), menyoroti alur penalaran model tersebut dan menandai langkah menuju transparansi yang lebih besar dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).Dipublikasikan dalam jurnal Nature, studi ini mengungkap bagaimana AI dapat belajar mengartikulasikan proses penalaran, yang disempurnakan bukan melalui anotasi manusia, melainkan melalui proses trial-error-reward, atau pembelajaran penguatan (reinforcement learning).Arsitektur DeepSeek-R1 memfasilitasi "perkembangan penalaran tingkat lanjut yang baru seperti refleksi diri, verifikasi, dan adaptasi strategi yang dinamis," menurut studi tersebut.Model ini mengungguli model sejenis yang dilatih melalui metode pembelajaran terawasi konvensional berbasis demonstrasi manusia pada tugas-tugas yang dapat diverifikasi seperti matematika, kompetisi pemrograman, dan bidang STEM lainnya.Sejak sebuah perusahaan rintisan (startup) berbasis di Hangzhou memperkenalkan DeepSeek tahun lalu, perusahaan AI generatif di China berlomba dengan tanpa henti untuk mempromosikan sistem sumber terbuka dengan meluncurkan dan memperbarui model dasar AI mereka, seperti Qwen, Kimi, dan Zhipu.AI, yang dapat diunduh, digunakan, diuji, dan dikembangkan secara bebas oleh peneliti dan publik.Makalah tersebut, dengan Liang Wenfeng, pendiri DeepSeek, sebagai penulis korespondennya, telah dipublikasikan bersama sejumlah laporan peninjau dan respons penulis."Semua ini merupakan langkah positif menuju transparansi dan reprodusibilitas dalam sebuah industri di mana klaim yang tidak terverifikasi dan hiperbola sering kali menjadi norma," ungkap editorial Nature, seraya mendesak para pesaingnya untuk "mengikuti contoh perusahaan tersebut."Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Warga Australia diajak berburu kotak telur hiu untuk konservasi dan penelitian
Indonesia
•
24 Mar 2023

Sejumlah penemuan arkeologi perkaya kebudayaan Terusan Besar Beijing-Hangzhou
Indonesia
•
15 Aug 2022

Kosmonaut Rusia rampungkan ‘spacewalk’ selama 7 jam
Indonesia
•
05 May 2023

Studi ungkap penurunan salinitas danau di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet
Indonesia
•
06 Aug 2023
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
