
Alat AI baru bisa identifikasi lebih cepat gen penyebab penyakit

Ilustrasi. (digitale.de on Unsplash)
Alat kecerdasan buatan EvORanker berhasil mengidentifikasi gen penyebab penyakit yang benar sebagai kandidat teratas di hampir 70 persen kasus dan termasuk dalam lima besar di 95 persen kasus, melampaui metode yang sudah ada.
Yerusalem, Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti internasional mengembangkan alat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dapat mempercepat pencarian penyebab genetik penyakit langka, demikian diumumkan Universitas Ibrani Yerusalem (Hebrew University of Jerusalem) dalam sebuah pernyataan pada Ahad (29/3).
Bagi keluarga dengan anak yang mengidap penyakit langka, memperoleh diagnosis dapat memakan waktu bertahun-tahun dan sering kali tanpa jawaban yang pasti.
Alat AI baru yang disebut EvORanker ini, yang dipaparkan dalam jurnal Genetics in Medicine, menganalisis gen di sepanjang proses evolusi. Dengan membandingkan pola dari 1.000 lebih spesies, alat tersebut mampu mendeteksi hubungan tersembunyi antara gen dan penyakit yang telah ditemukan sebelumnya.
Dalam pengujian, EvORanker berhasil mengidentifikasi gen penyebab penyakit yang benar sebagai kandidat teratas di hampir 70 persen kasus dan termasuk dalam lima besar di 95 persen kasus, melampaui metode yang sudah ada.
Dalam salah satu kasus, alat ini membantu mengidentifikasi gen yang bertanggung jawab atas gangguan kompleks pada seorang anak, sehingga membuka harapan untuk pengobatan. Dalam kasus lain, alat ini mengungkap dasar genetik dari sebuah penyakit multisistem, yang dapat membantu mengarahkan terapi yang potensial.
Alat AI baru ini juga berpotensi membantu pemanfaatan kembali obat-obatan yang sudah ada untuk kegunaan baru, sehingga mempersingkat proses pengobatan. Meskipun penyakit langka menjadi fokus utama saat ini, para peneliti juga sedang menjajaki penggunaan alat tersebut dalam penelitian kanker.
Bagi keluarga yang menghadapi penyakit langka tersebut, alat ini menjanjikan jawaban yang lebih cepat dan akurat untuk misteri medis yang telah lama belum terpecahkan, ujar para peneliti.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Rusia uji vaksin Sputnik V untuk remaja 14-18 tahun
Indonesia
•
19 Feb 2021

Studi baru ilmuwan China singkap evolusi awal mamalia
Indonesia
•
13 Apr 2024

China perkuat pemeriksaan paten untuk industri mutakhir
Indonesia
•
03 Oct 2023

Ilmuwan China kembangkan serat aerogel yang terinspirasi bulu beruang kutub
Indonesia
•
23 Dec 2023


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
