
Tim peneliti Australia manfaatkan AI untuk identifikasi ‘lemak tersembunyi’ pada tubuh

Ilustrasi. (Harlie Raethel on Unsplash)
Algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat memperkirakan keberadaan lemak berbahaya tersembunyi, atau lemak viseral, dari pemindaian kepadatan tulang yang digunakan untuk mendeteksi patah tulang belakang.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti di Australia sedang mengembangkan algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dapat memperkirakan keberadaan lemak berbahaya tersembunyi, atau lemak viseral, dari pemindaian kepadatan tulang yang digunakan untuk mendeteksi patah tulang belakang.Lemak viseral, lemak perut bagian dalam yang berbahaya dan menyelimuti organ tubuh, merupakan "biang masalah" yang erat kaitannya dengan berbagai masalah kesehatan serius, seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker, demikian menurut pernyataan yang dirilis oleh Edith Cowan University (ECU) Australia pada Kamis (4/9).Tim ECU sedang melatih algoritma pembelajaran mesin (machine learning) milik mereka untuk menganalisis pemindaian tulang belakang lateral dengan metode Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA), yang digunakan untuk memeriksa kepadatan tulang, guna memprediksi tingkat lemak viseral secara akurat dari citra tersebut. Cara ini menawarkan wawasan kesehatan baru yang berharga tanpa memerlukan pemeriksaan tambahan.Metode-metode estimasi tingkat lemak viseral yang ada saat ini, seperti indeks massa tubuh, lingkar pinggang, dan rasio pinggang-pinggul, memiliki keterbatasan karena tidak dapat membedakan berbagai jenis lemak tubuh yang berbeda-beda, sehingga kerap menimbulkan penilaian obesitas yang tidak konsisten, ujar para peneliti.Teknik-teknik pencitraan, seperti MRI dan CT, memberikan pengukuran lemak viseral yang akurat namun biayanya mahal. Selain itu, dalam kasus CT, pasien juga terpapar tingkat radiasi yang lebih tinggi, imbuh para peneliti."Model pembelajaran mesin ini telah dilatih dengan ribuan citra; langkah selanjutnya adalah mengintegrasikan kumpulan data lanjutan dari seluruh dunia, sehingga mesin tersebut dapat mempelajari kohort terbesar dan paling beragam yang tersedia agar bisa menjadi seefektif mungkin," papar Syed Zulqarnain Gilani, dosen senior sekaligus ilmuwan AI terkemuka di ECU.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China berhasil kloning padi hibrida, tak perlu benih baru setiap tahun
Indonesia
•
26 Jul 2026

Batuan purba ungkap peran air dalam membentuk Bumi 3,1 miliar tahun lalu
Indonesia
•
08 Jul 2026

Terapi suara non-invasif tingkatkan harapan bagi pengobatan Alzheimer
Indonesia
•
08 Jan 2026

Feature – Energi baru hidupkan kembali area penurunan tanah penambangan batu bara
Indonesia
•
06 Jun 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
