
Angka kematian akibat gelombang panas di Australia berpotensi capai 6.000 jiwa per tahun pada 2100

Foto yang diabadikan pada 15 April 2026 ini menunjukkan Sydney Harbour Bridge yang bermandikan cahaya keemasan di Sydney, Australia. (Xinhua/Ma Ping)
Angka kematian tahunan yang berkaitan dengan gelombang panas di Australia berpotensi meningkat menjadi hampir 6.000 jiwa pada 2100 akibat perubahan iklim.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Angka kematian tahunan yang berkaitan dengan gelombang panas di Australia berpotensi meningkat menjadi hampir 6.000 jiwa pada 2100 akibat perubahan iklim, naik dari sekitar 250 kematian per tahun pada periode 2016-2019, ungkap sebuah studi yang dirilis pada Rabu (6/5).
Penelitian tersebut menemukan bahwa di beberapa wilayah terpanas di Australia, seperti Thamarrurr di Wilayah Utara (Northern Territory/NT), angka kematian yang berkaitan dengan gelombang panas akan meningkat sebesar 4.412 persen, dan di wilayah dengan dampak panas terendah, yaitu wilayah West Coast di Australia selatan, dampaknya tetap akan signifikan, yakni sebesar 356 persen, menurut sebuah pernyataan dari Universitas Monash, Australia.
Pada 2090-an, rata-rata angka kematian berlebih tahunan diperkirakan akan mencapai 33,9 kematian per 100.000 penduduk di NT, diikuti oleh 18,4 di Negara Bagian Queensland dan 12,8 di Negara Bagian New South Wales, menurut studi tersebut yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Planetary Health.
"Proyeksi-proyeksi ini menegaskan kebutuhan mendesak akan strategi mitigasi terpadu dan adaptasi yang disesuaikan dengan kondisi lokal guna mengatasi ketimpangan kesehatan yang berkaitan dengan perubahan iklim," kata Profesor Li Shanshan dari Universitas Monash, selaku peneliti utama studi tersebut
Gelombang panas, atau periode panas ekstrem yang berkepanjangan, dikaitkan dengan peningkatan angka penyakit dan kematian akibat gangguan kardiovaskular, pernapasan, ginjal, serta kondisi lain yang berkaitan dengan panas, ujar para peneliti.
Tim tersebut, yang mengkaji data iklim dari 2.200 lebih komunitas di seluruh Australia, menyatakan dampaknya akan lebih besar dirasakan oleh kelompok rentan, termasuk komunitas adat dan penduduk di wilayah pedesaan serta daerah berpenghasilan rendah, di mana akses terhadap fasilitas pendingin udara dan sumber daya medis masih kurang memadai.
Mereka memperingatkan bahwa tanpa langkah-langkah mitigasi dan adaptasi yang terkoordinasi, perubahan iklim akan secara signifikan memperburuk dampak kesehatan akibat panas ekstrem dan membebani ketahanan kesehatan masyarakat.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kanker paru-paru kini lebih banyak diderita kelompok bukan perokok
Indonesia
•
09 Dec 2022

Gaza laporkan kasus polio pertama dalam 25 tahun saat konflik lumpuhkan sistem kesehatan
Indonesia
•
19 Aug 2024

Haji1440 - Dude Herlino bicara di penutupan Haji 2019
Indonesia
•
17 Aug 2019

China mulai upaya nasional untuk lindungi jalur migrasi burung
Indonesia
•
26 Feb 2023


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
