
AS luncurkan penerbangan lintas bulan berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun

Roket Space Launch System NASA yang membawa wahana antariksa Orion lepas landas dalam uji penerbangan Artemis I di Kennedy Space Center milik NASA di Florida, Amerika Serikat, pada 16 November 2022. (Xinhua/NASA/Keegan Barber)
Misi Bulan Artemis II akan menguji sistem pendukung kehidupan dengan astronaut di dalamnya dan membantu membuka jalan bagi kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan serta misi masa depan ke Mars.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Misi Bulan Artemis II milik NASA diluncurkan pada Rabu (1/4) dari Negara Bagian Florida, Amerika Serikat (AS), membawa empat astronaut dalam misi penerbangan lintas (flyby) Bulan berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun.
Roket Space Launch System (SLS), dengan wahana antariksa Orion di atasnya, diluncurkan dari Kennedy Space Center milik NASA di Florida pada pukul 18.35 Eastern Time atau Kamis (2/4) pukul 06.35 WIB, mengirim awak dalam perjalanan bersejarah selama 10 hari mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi.
Ini merupakan misi berawak pertama NASA dalam program Artemis. Awak yang berjumlah empat orang ini terdiri dari astronaut NASA Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta astronaut Badan Antariksa Kanada (Canadian Space Agency) Jeremy Hansen.
Hitung mundur peluncuran sempat dihentikan sejenak pada tanda T-10 menit sebelum dilanjutkan kembali beberapa menit kemudian.
Sekitar delapan menit setelah lepas landas, NASA mengonfirmasi penghentian mesin utama tahap inti SLS dan pemisahan yang sukses dari tahap propulsi kriogenik sementara dan wahana antariksa Orion, menandai berakhirnya fase propulsi utama pertama roket.
Sekitar 24 menit setelah peluncuran, sayap panel surya Orion sepenuhnya terbuka dan mulai menghasilkan energi. Setiap sayap mengandung sekitar 15.000 sel surya yang mengubah sinar matahari menjadi listrik.
Para awak dan insinyur di darat kemudian mulai mengalihkan wahana antariksa itu dari mode peluncuran ke operasi penerbangan untuk mulai memeriksa sistem-sistem utama.
Sekitar 49 menit setelah penerbangan uji coba dimulai, tahap atas roket SLS menyala untuk menempatkan Orion ke orbit elips di sekitar Bumi. Pembakaran kedua yang direncanakan oleh tahap tersebut akan mendorong Orion ke orbit Bumi tinggi yang membentang sekitar 73.600 km di luar Bumi. Setelah itu, Orion akan terpisah dan melanjutkan misi secara mandiri.
Dalam sebuah penerbangan lintas Bulan yang direncanakan selama beberapa jam pada 6 April, para astronaut diharapkan memotret dan mengamati permukaan Bulan, termasuk wilayah sisi jauh yang jarang dilihat manusia, menurut NASA.
Para awak juga akan melakukan serangkaian penelitian kesehatan manusia selama misi berlangsung.
Setelah penerbangan lintas Bulan, para astronaut akan kembali ke Bumi dan mendarat di Samudra Pasifik.
"Artemis II merupakan penerbangan uji coba, dan uji coba ini baru saja dimulai. Tim yang membangun wahana ini, memperbaiki, dan mempersiapkannya untuk penerbangan telah memberikan awak kami mesin yang mereka butuhkan guna membuktikan apa yang bisa dilakukan wahana itu," ujar Associate Administrator NASA Amit Kshatriya.
Sebagai misi Artemis berawak pertama, penerbangan ini akan menguji sistem pendukung kehidupan dengan astronaut di dalamnya dan membantu membuka jalan bagi kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan serta misi masa depan ke Mars.
Misi ini akan membawa astronaut lebih jauh dari Bumi dan lebih dekat ke Bulan dibandingkan perjalanan manusia mana pun dalam lebih dari setengah abad terakhir, ungkap NASA.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Mineral yang kaya molekul air ditemukan dalam sampel Bulan Chang'e-5
Indonesia
•
26 Jul 2024

Peneliti kembangkan jaringan neural berteknologi kuantum untuk prediksi molekul obat
Indonesia
•
13 Aug 2025

Airbus luncurkan proyek daur ulang pesawat global pertamanya di China barat daya
Indonesia
•
26 Jan 2024

Tim peneliti berbasis di China kembangkan metode tes cepat virus cacar monyet
Indonesia
•
31 Oct 2022


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
