
Badai dan kekeringan percepat perputaran biomassa di hutan Amazon

Seekor burung kiskadee besar terlihat di Hutan Hujan Amazon di Manaus, Brasil, pada 12 Desember 2013. (Xinhua/Xu Zijian)
Waktu tinggal karbon di kawasan Amazon terus menyusut seiring atmosfer menjadi lebih kering dan badai konvektif semakin aktif, menyebabkan pohon-pohon mati dan tergantikan lebih cepat dibanding sebelumnya.
Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Badai dahsyat dan udara yang lebih kering mempercepat perputaran biomassa alami di hutan hujan Amazon, yang berpotensi mengurangi kemampuan hutan tersebut untuk menyimpan karbon dalam waktu lama, menurut temuan sejumlah peneliti.
Studi itu, yang dipimpin oleh Kebun Raya China Selatan (South China Botanical Garden/SCBG) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) bersama Universitas Cornell dan mitra internasional lainnya, diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change.
Hutan tropis seperti Amazon menyimpan lebih dari 60 persen biomassa tumbuhan dunia, sehingga menjadi faktor penting dalam pengaturan iklim global. Namun, perannya sebagai penyimpanan karbon (carbon storage) bergantung pada berapa lama karbon tersimpan di pepohonan dan vegetasi lainnya sebelum kembali dilepaskan ke atmosfer. Para ilmuwan menyebutnya sebagai waktu tinggal karbon. Studi tersebut menunjukkan bahwa waktu tinggal karbon di kawasan Amazon terus menyusut. Seiring atmosfer menjadi lebih kering dan badai konvektif semakin aktif, pohon-pohon mati dan tergantikan lebih cepat dibanding sebelumnya.
Penelitian sebelumnya mengenai penyerap karbon di hutan tropis sebagian besar berfokus pada pertumbuhan dan produktivitas pohon. Jauh lebih sedikit perhatian diberikan pada kematian pohon dan perputaran biomassa. Sebagian besar studi terdahulu juga mengandalkan data dari petak-petak hutan kecil di tingkat lokal.
"Hutan tropis sangat kompleks dan memiliki perbedaan besar dari satu tempat ke tempat lain," kata Wu Donghai, peneliti dari SCBG. "Petak penelitian lapangan yang terbatas tidak dapat sepenuhnya menangkap pola skala besar dan pendorong perputaran karbon biomassa."
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti menggabungkan citra satelit dengan catatan jangka panjang dari petak-petak hutan di seluruh kawasan Amazon. Langkah ini memungkinkan mereka untuk memetakan kematian pohon dan perputaran biomassa di seluruh wilayah tersebut. Dengan menggunakan pembelajaran mesin, mereka kemudian mengevaluasi bagaimana berbagai faktor lingkungan memengaruhi waktu perputaran karbon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu perputaran karbon biomassa sangat bervariasi di seluruh kawasan Amazon dan merespons perubahan lingkungan dengan pola nonlinear yang kuat. Badai konvektif ternyata memberikan pengaruh yang bahkan lebih besar dibandingkan tekanan yang berkaitan dengan kekeringan.
Para peneliti memperkirakan bahwa pada akhir abad ini, waktu perputaran karbon di hutan Amazon akan memendek dengan rata-rata sekitar 3 persen dalam skenario emisi rendah. Dalam skenario emisi tinggi, waktunya dapat memendek hingga 15 persen.
Wu mengatakan temuan tersebut membantu para ilmuwan lebih memahami faktor-faktor yang menjaga stabilitas penyerap karbon di hutan tropis. Temuan itu juga memberikan dukungan penting untuk penyempurnaan model sistem Bumi, yang digunakan untuk menentukan tren perubahan iklim di masa depan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan temukan bukti baru terkait kelayakan huni bulan planet Saturnus
Indonesia
•
10 Oct 2022

Mobil energi baru China kian populer di Yordania di tengah transisi hijau
Indonesia
•
19 Aug 2022

Peneliti temukan spesies mawar China yang sangat terancam punah di China barat daya
Indonesia
•
13 May 2024

Jika hilang dari Queensland Australia, ikan ini punah selamanya dari bumi
Indonesia
•
03 Sep 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
