
Ilmuwan temukan solusi atasi efek samping imunoterapi pada pasien kanker

Foto yang diabadikan pada 16 September 2021 ini menunjukkan seorang ilmuwan China sedang mengatur dokumen laboratorium di laboratorium Institut Bioteknologi Industri Tianjin, Akademi Ilmu Pengetahuan China. (Xinhua/Jin Liwang)
Badai sitokin terjadi sebagai efek samping dari jenis-jenis imunoterapi tertentu, seperti terapi sel T CAR, yang secara efisien dapat mengobati tumor ganas dengan merangsang sel imun agar melepaskan banyak sitokin inflamasi.
Beijing, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China menemukan solusi untuk menghambat terjadinya sindrom pelepasan sitokin (cytokine release syndrom/CRS) yang dipicu oleh imunoterapi kanker, demikian menurut sebuah makalah baru-baru ini yang diterbitkan di jurnal Nature Biomedical Engineering.CRS, yang juga dikenal sebagai badai sitokin (cytokine storm), merupakan reaksi berlebih dari sistem kekebalan tubuh. Hal ini terjadi sebagai efek samping dari jenis-jenis imunoterapi tertentu, seperti terapi sel T CAR, yang secara efisien dapat mengobati tumor ganas dengan merangsang sel imun agar melepaskan banyak sitokin inflamasi, yang pada akhirnya menyebabkan CRS.Pasien dengan CRS menunjukkan gejala seperti demam, hipotensi, gagal organ, dan bahkan kematian pada kasus yang parah. Opsi pengobatan yang ada saat ini adalah dengan menyuntikkan antibodi interleukin-6 (IL-6), suatu sitokin proinflamasi. Namun, antibodi tersebut tidak dapat disuntikkan sebelum CRS terjadi karena dapat memengaruhi kadar normal IL-6 dalam tubuh.Para ilmuwan dari National Center for Nanoscience and Technology mengembangkan suatu hidrogel yang peka terhadap suhu dan dapat mengikat antibodi IL-6. Hidrogel ini dapat disuntikkan terlebih dahulu dan secara signifikan mengurangi kadar IL-6 ketika terjadi CRS yang dipicu sel T CAR.Hidrogel yang diimplantasi ini bekerja seperti "spons" dengan menyerap IL-6 hanya saat kadarnya naik di atas normal, sehingga mencegah terjadinya CRS, urai makalah tersebut.Makalah itu menambahkan bahwa "spons" tersebut tidak memengaruhi efikasi antitumor dari imunoterapi dan dapat dengan mudah dikeluarkan dari tubuh menggunakan jarum suntik.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Rusia luncurkan dua kapal selam strategis bertenaga nuklir terbaru
Indonesia
•
30 Dec 2022

Helikopter sipil besar China rampungkan uji terbang perdana di dataran tinggi
Indonesia
•
24 Nov 2023

Ilmuwan China temukan mekanisme yang pengaruhi perkembangan kanker pankreas
Indonesia
•
16 Feb 2023

Rusia posisi teratas dalam jumlah peluncuran roket luar angkasa
Indonesia
•
11 Jun 2021


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
