
Ilmuwan Australia uji coba batuan vulkanis untuk pertanian berkelanjutan

Seorang pekerja kilang wine mengoperasikan sebuah mesin untuk memanen anggur di Coonawarra, Australia, pada 20 Februari 2025. (Xinhua/Li Ting)
Basal dapat mengurangi keasaman tanah serta memasok nutrisi utama seperti fosfor, kalsium, magnesium, dan silikon, sehingga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan mendongkrak keuntungan pertanian.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah peneliti Australia sedang menguji coba pendekatan baru untuk pertanian yang dapat membantu mengatasi biaya pertanian dan mengurangi emisi iklim.Basal yang dihancurkan, produk sampingan batuan vulkanis yang jumlahnya melimpah dan berbiaya murah dari aktivitas pertambangan dan konstruksi, dapat membantu petani Australia melakukan penghematan signifikan setiap tahunnya dan membantu memerangi perubahan iklim, kata para peneliti dari Universitas Australia Selatan (University of South Australia/UniSA) pada Senin (14/7).Sebuah uji coba nasional sedang menguji penggunaan basal yang dihancurkan, dengan biaya hanya 30 dolar Australia atau 19,69 dolar AS per ton, sebagai sebuah cara berbiaya rendah untuk mengurangi keasaman tanah, meningkatkan hasil panen, dan menangkap karbon, yang semuanya menggunakan peralatan pertanian standar dan biaya tambahan minimal, kata Binoy Sarkar, senior research fellow di Future Industries Institute UniSA, yang memimpin uji coba tersebut.*1 dolar Australia = 10.682 rupiah**1 dolar AS = 16.221 rupiah"Petani Australia menghabiskan hampir 1,2 miliar dolar Australia per tahun untuk mengatasi pengasaman tanah, menggunakan material pengapuran yang mahal dan justru ikut berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca," sebut Sarkar.Basal tidak hanya mengurangi keasaman tanah, tetapi juga memasok nutrisi utama seperti fosfor, kalsium, magnesium, dan silikon, sehingga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan mendongkrak keuntungan pertanian, lanjutnya.Pertanian di Australia menghasilkan hampir 18 persen dari total gas rumah kaca di negara itu. Mengganti kapur dengan basal dapat mengurangi emisi ini dan membantu mencapai target net-zero per 2050, menurut tim kolaboratif yang melibatkan UniSA Australia, Universitas James Cook, Tropical North Queensland Drought Hub, serta mitra-mitra industri dalam dua proyek yang didanai oleh pemerintah federal dan swasta.Inisiatif itu juga menguntungkan bagi industri pertambangan, memberikan nilai baru pada limbah basal sebagai pembenah tanah, tutur para peneliti.Jika berhasil, teknologi tersebut dapat mendorong pengadopsian skala besar, memungkinkan petani dan pemilik tambang untuk memperoleh kredit karbon dan mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan, ujar Sarkar, seraya menambahkan bahwa uji coba yang sedang berlangsung bertujuan untuk membangun kepercayaan dan mempercepat penerapannya di seluruh negeri.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Laboratorium dan perusahaan China akan kembangkan ‘konstelasi komputasi luar angkasa’
Indonesia
•
06 Jul 2024

Lebih dari 400 benda peninggalan dari Laut China Selatan memulai debutnya di Hainan
Indonesia
•
29 Sep 2024

Washington Post: Dampak kenaikan suhu, AS alami musim nyamuk yang lebih panjang
Indonesia
•
23 Aug 2024

Helikopter AC332 China lakukan penerbangan ‘full-state’ pertama
Indonesia
•
09 Apr 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
