
Beban kesehatan mental global naik dua kali lipat sejak 1990

Ilustrasi. (Arun Anoop on Unsplash)
Beban gangguan mental mencapai puncaknya di kalangan remaja berusia 15-19 tahun, dan perempuan memiliki angka yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Gangguan mental telah menjadi penyebab utama disabilitas secara global, melampaui kanker dan penyakit kardiovaskular, menurut pernyataan dari Universitas Queensland (UQ) Australia pada Jumat (22/5).
Studi tersebut, yang dipimpin oleh UQ, Pusat Penelitian Kesehatan Mental Queensland, dan Universitas Washington di Amerika Serikat, menemukan bahwa hampir 1,2 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan mental pada 2023, hampir dua kali lipat dari jumlah yang tercatat pada 1990.
"Beban gangguan mental mencapai puncaknya di kalangan remaja berusia 15-19 tahun, dan perempuan memiliki angka yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki," kata Damian Santomauro, lektor kepala dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UQ.
Penelitian itu, yang dipublikasikan di The Lancet, mengkaji beban kesehatan dari 12 kondisi, termasuk kecemasan, depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, autisme, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan gangguan makan, serta melacak tren global dari 1990 hingga 2023.
Para peneliti menggunakan metrik tahun hidup yang disesuaikan dengan disabilitas (disability-adjusted life year/DALY) untuk menganalisis beban gangguan mental, di mana satu DALY sama dengan satu tahun hidup sehat yang hilang. Gangguan mental menempati peringkat kelima sebagai penyebab utama DALY pada 2023, naik dari peringkat ke-12 pada 1990, sebagian besar disebabkan oleh peningkatan gangguan kecemasan dan depresi berat, menurut studi tersebut.
Para peneliti mengaitkan tren itu dengan kombinasi berbagai faktor, termasuk perlakuan buruk terhadap anak, kekerasan dalam rumah tangga, genetika, meningkatnya ketidaksetaraan, perubahan iklim, pandemi dan konflik, serta kualitas dan ketersediaan data.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kematian akibat lonjakan suhu panas meningkat di Eropa, WHO serukan aksi mendesak
Indonesia
•
19 Jul 2023

Para pejabat berupaya maksimalkan bantuan ke Gaza melalui koridor laut Siprus
Indonesia
•
24 Mar 2024

COVID-19 – Meksiko catat peningkatan tipis kasus rawat inap dan kematian
Indonesia
•
18 Jan 2023

Kisah – Dua saudara kembar di China ubah gunung tandus jadi hutan rimbun
Indonesia
•
14 Jun 2023


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
