Fokus Berita – Indonesia kelola 32 persen sampah, sisanya masih jadi ancaman lingkungan

Black Soldier Fly

Sejumlah petugas menunjukkan cara menguraikan sampah organik menjadi pupuk kompos di sebuah acara komunitas di Bogor, Jawa Barat, pada 25 Oktober 2025. (Indonesia Window)

Black Soldier Fly menjadi pilihan inovasi dalam mengelola sampah organik menjadi produk berguna, seperti maggot yang bisa digunakan sebagai pakan ternak.

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang belum terselesaikan hingga kini.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 342 kabupaten/kota yang melaporkan, hanya sekitar 37,3 juta ton per tahun atau 32 persen timbulan sampah yang berhasil dikelola dengan baik. Angka ini menguatkan bahwa penanganan sampah, terutama sampah organik, masih jauh dari optimal.

“Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan, komposisi sampah organik mendominasi timbunan sampah tersebut. Artinya, lebih dari separuh beban TPA bisa ditangani langsung dengan teknologi yang tepat,” papar Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RID) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yopi, dalam kegiatan desiminasi praktik baik ‘Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Black Soldier Fly (BSF) dalam Sistem Circular Economy’, Senin (8/12), dikutip dari situs jejaring BRIN, Selasa.

Namun, lanjutnya, kondisi di lapangan memperlihatkan persoalan serius. “Lebih dari 70 TPA di Indonesia masih menggunakan open dumping atau sistem pembuangan sampah terbuka. Rata-rata TPA di daerah kecil dan menengah sudah mencapai kondisi dengan kapasitas maksimum,” jelasnya.

Yopi juga menyoroti dampak lingkungan dan ekonomi. “Emisi metan gas rumah kaca yang muncul juga sangat berkontribusi besar untuk gas rumah kaca tersebut. Kemudian, beban penanganan sampah akan menghabiskan porsi dari APBD, dan kurang menciptakan berbagai macam nilai tambah.”

Karena itu, sampah organik menurutnya bukan lagi isu lingkungan semata, tapi berkaitan dengan isu kesehatan masyarakat, ekonomi, dan pembangunan daerah.

Yopi menyebut teknologi Black Soldier Fly sebagai opsi yang semakin relevan. “Kami melihat ada tiga poin utama dari teknologi BSF ini, pertama, bisa mengurangi efek gas sampah sampai 70–90 persen dalam waktu singkat,” urainya.

Dia menambahkan, teknologi ini juga mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi. “Maggot bisa digunakan sebagai pakan, bisa digunakan sebagai pupuk.” Selain itu, BSF dinilai dapat mendorong pengembangan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Efek samping positif dari inovasi BSF, seperti maggot dan kompos, akan memperkuat rantai nilai pertanian, peternakan dan perikanan, ujar Yopi, seraya berharap praktik baik ini dapat diterapkan di lebih banyak wilayah.

Sampah makanan

Sementara itu, site manager BSF Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Aula Sakinah Muntasyarah, mengungkapkan bahwa Indonesia masih menjadi penyumbang terbesar sampah makanan di kawasan ASEAN.

“Menurut data KLHK (2023) sampah makanan menyumbang 41,4 persen dari total sampah di Indonesia. Setiap orang menyumbang sampah makanan sebesar 115–184 kg per tahun,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa potensi penyelamatan pangan dari food waste sebenarnya sangat besar. “Jika dimanfaatkan mampu mencukupi kebutuhan gizi 61–125 juta orang di Indonesia. Kerugiannya mencapai 213–551 triliun per tahun, sementara food waste menyumbang 7,29 persen emisi gas rumah kaca per tahun.”

Aula juga menyoroti pola pengelolaan sampah di Tanah Air yang masih bertumpu pada TPA. “Secara nasional 60–70 persen sampah di Indonesia dibawa ke TPA. Sisanya dibakar, dibuang secara ilegal, atau dikubur,” tuturnya.

Dia mengingatkan bahwa peristiwa longsor TPA Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, harus menjadi pelajaran penting bagi banyak pemerintah daerah untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah dan mengadopsi konsep 3R, yakni Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang).

Teknologi BSF

Terkait efektivitas BSF, Aula menjelaskan bahwa teknologi ini mampu mengolah sampah organik dalam jumlah besar secara cepat. “Larva BSF dapat mengolah sampah organik hingga mencapai 56 persen, dan BSF Lombok sendiri pernah mencatatkan tingkat konversi sampah organik sebesar 50 persen,” ungkapnya.

Prosesnya pun tergolong singkat. “Proses pengolahan sampah organik berlangsung cepat, kurang lebih 17 hari, biaya pendirian fasilitas dan pengelolaannya relatif lebih murah, dan menghasilkan beberapa produk yang dapat digunakan kembali untuk ketahanan pangan,” urainya.

Menurut Aula, sampah yang dapat diolah dengan Black Soldier Fly mencakup sampah organik perkotaan maupun agro-industri.

“BSF bermanfaat untuk ketahanan pangan karena produk yang dihasilkan dari proses BSF dapat digunakan sebagai pakan ternak dan kompos untuk pertanian organik,” jelasnya, seraya menambahkan, larva BSF memiliki kandungan protein tinggi, mencapai 45–60 persen.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait