Studi: Unsur tanah jarang dan biomineralisasi ditemukan pada tumbuhan

Blechnum orientale

Ilustrasi tanaman pakis. (Mykyta Martynenko on Unsplash)

Blechnum orientale menyimpan unsur tanah jarang yang diserap dari tanah, lalu engendap dalam bentuk nanopartikel dan kemudian mengkristal menjadi mineral yang dikenal sebagai monasit (monazite)-(La).

Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti asal China menemukan bahwa sebuah jenis pakis (fern) mampu menyerap serta menimbun unsur tanah jarang (rare earth), dan mereka juga mengamati bahwa unsur-unsur tersebut membentuk fase-fase tertentu yang tersusun secara alami (self-assembled) di dalam jaringan tumbuhan itu, menurut sebuah artikel penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology.

Unsur tanah jarang merupakan logam penting untuk energi bersih dan aplikasi teknologi tinggi, tetapi pasokannya menghadapi tantangan lingkungan maupun geopolitik.

Sebelumnya, secara umum diketahui bahwa mikroba dan hewan dapat menghasilkan mineral di dalam tubuh mereka, sementara biomineralisasi tumbuhan telah lama kurang diperhatikan.

Dalam studi ini, para peneliti dari Institut Geokimia Guangzhou (Guangzhou Institute of Geochemistry) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) mengamati bahwa di dalam berkas pembuluh dan jaringan epidermis tumbuhan pakis Blechnum orientale, unsur tanah jarang yang diserap dari tanah mengendap dalam bentuk nanopartikel dan kemudian mengkristal menjadi mineral yang dikenal sebagai monasit (monazite)-(La).

Para peneliti mengatakan bahwa monazit merupakan mineral tanah jarang yang penting secara industri dan umumnya terbentuk secara alami melalui proses geologis. Namun, monazit alami sering mengandung unsur radioaktif seperti uranium dan thorium, menimbulkan tantangan dalam proses ekstraksi dan pemanfaatannya.

Sebaliknya, ‘monasit biologis’ yang terbentuk oleh pakis Blechnum orientale dalam kondisi suhu dan tekanan lingkungan alami bersifat murni, nonradioaktif, dan memiliki potensi besar untuk penambangan hijau unsur tanah jarang.

Studi baru ini mengubah pemahaman tentang pembentukan mineral tanah jarang, membuktikan kelayakan metode penambangan yang memanfaatkan tanaman (phytomining), dan memperkenalkan metode inovatif berbasis tanaman untuk pengembangan berkelanjutan dari sumber daya tanah jarang.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait