
Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global

Kawanan bebek berjalan menuju area teduh di St James's Park saat gelombang panas terus melanda, di London, Inggris, pada 1 Juli 2025. (Xinhua)
Deforestasi dan pengembangan lahan yang cepat mengintensifkan secara signifikan gelombang panas yang melampaui dampak pemanasan global.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Deforestasi dan pengembangan lahan yang cepat mengintensifkan secara signifikan gelombang panas yang melampaui dampak pemanasan global, menurut studi terbaru.
Studi tersebut, yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment, menemukan deforestasi dan pemanfaatan lahan yang tidak terencana menjadi "penguat senyap" bagi panas, yang memperburuk gelombang panas melampaui dampak gas rumah kaca, urai Australian Research Council Center of Excellence for 21st Century Weather pada Rabu (28/1).
Temuan itu sangat relevan dengan tantangan iklim yang dihadapi Australia saat ini, termasuk gelombang panas terbaru yang melanda sebagian besar wilayah negara itu pada Januari, yang disertai kebakaran hutan dan lahan, ujar Oluwafemi Adeyeri, penulis utama studi itu yang juga center research fellow yang berbasis di Australian National University.
Tim peneliti menunjukkan hilangnya vegetasi menyebabkan lanskap kehilangan sistem pendinginan alaminya.
"Hal ini memperkuat panas secara lokal, dan saat dipadukan dengan kelembapan, menghasilkan gelombang panas yang lebih berbahaya dan berlangsung lebih lama," tutur Adeyeri.
Tim peneliti menggunakan pemodelan iklim berbantuan kecerdasan buatan untuk menganalisis Afrika namun menemukan mekanisme fisik universal yang juga berlaku secara langsung di Australia, di mana pengembangan lahan yang cepat dan hilangnya vegetasi mengubah iklim lokal.
Temuan itu menunjukkan gelombang panas di beberapa wilayah Afrika dapat berlangsung hingga 12 kali lebih lama pada tahun 2100 jika emisi dan degradasi lahan terus berlanjut.
Namun mitigasi masih memungkinkan, mengingat menekan emisi dan melindungi vegetasi alami dapat mengurangi tingkat keparahan gelombang panas sekitar 30 persen, demikian menurut temuan studi tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan ungkap penyebab utama penyusutan volume air Aral Sea
Indonesia
•
18 Dec 2022

Indonesia punya tujuh jenis lobster
Indonesia
•
02 Dec 2020

Babi kutil endemik Indonesia rentan African swine fever, butuh konservasi ex-situ
Indonesia
•
20 Dec 2025

China berhasil luncurkan teknologi keselamatan untuk pengangkutan baterai lithium melalui udara
Indonesia
•
28 Nov 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
