
Ilmuwan Australia serukan aksi untuk atasi degradasi tanah

Foto yang diabadikan pada 14 September 2024 ini menunjukkan pemandangan festival bunga Floriade di Canberra, Australia. Edisi ke-37 dari festival bunga dan hiburan tahunan Floriade dibuka pada Sabtu (14/9) di Commonwealth Park, Canberra. (Xinhua/Chu Chen)
Degradasi tanah mengancam ketahanan pangan, mata pencaharian petani, dan keanekaragaman hayati Bumi, dengan 90 persen tanah di planet ini dapat terdegradasi pada 2050 kecuali aksi segera diambil.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sekelompok ilmuwan Australia dan internasional menyerukan aksi segera terkait degradasi tanah yang mengancam ketahanan pangan, mata pencaharian petani, dan keanekaragaman hayati planet ini.Sekitar 40 persen tanah yang sehat telah terdegradasi oleh pertanian, penggundulan hutan, dan penggunaan bahan kimia secara berlebihan, demikian dilaporkan Australian Broadcasting Corporation pada Rabu (1/1), mengutip peringatan sekelompok ilmuwan tersebut bahwa 90 persen tanah di planet ini dapat terdegradasi pada 2050 kecuali aksi segera diambil.Degradasi tanah, yang disebabkan oleh pertanian, penggundulan hutan, penggembalaan ternak yang berlebihan, dan penggunaan bahan kimia pada tanah, dapat menyebabkan erosi, salinitas atau keasaman tanah, penurunan kesuburan, pemadatan, dan genangan air, ungkap para ilmuwan.Alex McBratney, seorang profesor dari Institut Pertanian di Universitas Sydney, mencatat berbagai tantangan besar untuk kesehatan tanah di Australia, termasuk erosi yang sangat besar, pengasaman, kontaminasi pestisida, dan juga mikroplastik.Sebuah laporan, yang baru-baru ini dirilis oleh kelompok ilmuwan yang disebut Aroura Soil Security Think Tank, menyerukan pemerintah untuk memprioritaskan keamanan tanah.McBratney mengusulkan agar program tanah dimasukkan ke dalam kebijakan baru Australia untuk mendorong para pemilik lahan melindungi lingkungan, serta menggalakkan pertanian regeneratif dalam sistem penanaman, seperti mengembalikan sejumlah hewan ke dalam sistem pertanian dan menggembalakan tanaman penutup tanah yang akan membantu daur ulang nutrisi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Sistem udara nirawak komersial yang dikembangkan China siap lakukan penerbangan perdana
Indonesia
•
06 Apr 2024

Asam amino ditemukan dalam sampel asteroid dari wahana Hayabusa2 Jepang
Indonesia
•
07 Jun 2022

Moderna tolak permintaan China untuk ungkapkan teknologi vaksin COVID-19
Indonesia
•
04 Oct 2022

‘Internet of Things’ dalam ‘precision agriculture’
Indonesia
•
17 Sep 2020


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
