
Interaksi unsur tradisional dan modern perkaya kehidupan etnis minoritas di China

Laodabao, yang terletak di daerah pegunungan di Pu'er, Provinsi Yunnan, China barat daya, merupakan rumah bagi ratusan penduduk desa dari kelompok etnis Lahu. (Xinhua)
Desa Laodabao yang terletak di daerah pegunungan di Pu'er, Provinsi Yunnan, China barat daya, merupakan rumah bagi ratusan penduduk dari kelompok etnis Lahu.
Kunming, China (Xinhua) – Laodabao, yang terletak di daerah pegunungan di Pu'er, Provinsi Yunnan, China barat daya, merupakan rumah bagi ratusan penduduk desa dari kelompok etnis Lahu.Sepuluh tahun lalu, sekitar 80 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.Li Naluo (39) merupakan satu dari segelintir penduduk desa yang berkesempatan melihat dunia luar, karena dirinya mempelajari alat musik gitar saat masih kanak-kanak dan ikut dengan sang ayah pergi ke luar desa untuk mementaskan pertunjukan.Pada 2013, Li mendirikan sebuah perusahaan di bidang seni pertunjukan, yang melibatkan lebih dari 200 penduduk desa dari berbagai usia.Menampilkan pertunjukan lagu dan tarian budaya mereka untuk para wisatawan dari seluruh penjuru negeri telah menjadi bagian dari rutinitas penduduk desa, dan mereka juga menyuguhkan pertunjukan mereka di kota-kota besar di China, bahkan di luar negeri.Sejak didirikan, perusahaan itu sudah lebih dari 960 kali mementaskan pertunjukan di hadapan total 153.000 lebih wisatawan, yang menghasilkan pendapatan lebih dari 4,75 juta yuan.Transformasi di Desa Laodabao merupakan pengalaman bersama di Pu'er, sebuah kota perbatasan yang dihuni oleh 26 kelompok etnis yang berbeda.Banli, desa etnis minoritas Lahu lainnya di Pu'er, juga telah mengubah budaya khasnya menjadi aset wisata yang tak ternilai.Desa itu kini memiliki perusahaan seni pertunjukannya sendiri yang terkenal dengan ‘tarian ayunan’ (swing dance), tarian tradisional etnis Lahu yang menampilkan gerakan yang digambarkan lembut, rapi, dan anggun, selain juga melibatkan peregangan.Selain memanfaatkan budaya etnis, Pu'er juga menemukan peluang-peluang baru yang dihadirkan oleh penanaman teh tradisional mereka.Desa Zhengwan telah memulai pengembangan industri teh modern dengan meluncurkan koperasi petani dalam beberapa tahun terakhir.Lu Jiashou, seorang petani teh setempat, bergabung dengan koperasi petani teh tersebut pada 2007.*1 yuan = Rp2.203 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

UNESCO: China buat ‘lompatan kuantum’ dalam kerja sama pendidikan
Indonesia
•
25 Nov 2022

Kura-kura tertua di dunia rayakan ulang tahun ke-190
Indonesia
•
03 Dec 2022

Gelombang panas perburuk kualitas udara, ‘penalti iklim’ bagi ratusan juta manusia
Indonesia
•
08 Sep 2022


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
