
Detektor plasma, alat pemantau di stasiun luar angkasa China

Roket pengangkut Long March-5B Y3, yang membawa modul laboratorium Wentian, lepas landas dari Situs Peluncuran Pesawat Luar Angkasa Wenchang di Provinsi Hainan, China selatan, pada 24 Juli 2022. (Xinhua/Yang Guanyu)
Stasiun luar angkasa China mengorbit di Lapisan F2 ionosfer, tempat atmosfer Bumi bertemu dengan luar angkasa. Dengan kepadatan plasma tertinggi, Lapisan F2 merupakan area tempat sebagian besar fenomena dan efek fisik ionosfer terjadi dan memiliki pengaruh paling besar pada sinyal navigasi dan posisi.
Jakarta (Indonesia Window) – Sebuah detektor pencitraan plasma in-situ akan dipasang pada platform aktivitas di luar pesawat (extravehicular) modul laboratorium Wentian untuk mengukur berbagai parameter plasma di orbit stasiun luar angkasa China, kata Badan Antariksa Berawak China.Wentian, modul laboratorium pertama stasiun luar angkasa China, dikirim ke luar angkasa pada 24 Juli dan telah beroperasi di orbit selama hampir sebulan.Selain kabinet percobaan ilmiah, Wentian juga membawa dua detektor extravehicular. Kedua detektor tersebut adalah detektor pencitraan plasma in-situ dan detektor partikel energi, yang akan dipasang pada platform extravehicular seperti yang direncanakan.Detektor pencitraan plasma in-situ adalah muatan yang mengintegrasikan fungsi pengukuran dan pencitraan in-situ. Alat itu dapat mengukur parameter elektronik plasma, parameter ion plasma, dan potensi permukaan Wentian serta melakukan deteksi pencitraan ion tiga dimensi (3D).Stasiun luar angkasa tersebut merupakan infrastruktur luar angkasa di orbit jangka panjang China dan platform bagi China untuk melakukan berbagai eksperimen sains luar angkasa. Pemantauan lingkungan luar angkasa orbitnya merupakan salah satu pekerjaan vital untuk memastikan keamanan program luar angkasa berawak.Pemantauan lingkungan luar angkasa, seperti lingkungan plasma, juga dapat memberikan dasar penting untuk mempelajari mekanisme kerusakan yang dibawa oleh lingkungan luar angkasa ke stasiun luar angkasa dan astronaut, dan juga dapat mengumpulkan parameter yang diperlukan untuk muatan eksperimen di stasiun luar angkasa itu.Stasiun luar angkasa China mengorbit di Lapisan F2 ionosfer, tempat atmosfer Bumi bertemu dengan luar angkasa. Dengan kepadatan plasma tertinggi, Lapisan F2 merupakan area tempat sebagian besar fenomena dan efek fisik ionosfer terjadi dan memiliki pengaruh paling besar pada sinyal navigasi dan posisi.Detektor tersebut dapat membantu mempelajari asal dan evolusi ketidakteraturan ionosfer untuk meningkatkan akurasi model ionosfer. Alat itu kemudian juga dapat meningkatkan akurasi navigasi dan penentuan posisi berdasarkan model ionosfer.Berada di dalam plasma luar angkasa, stasiun luar angkasa China telah mengalami berbagai interaksi dengan plasma, yang menghasilkan pengisian daya stasiun luar angkasa dan kontaminasi serta kerusakan bahan permukaannya.Detektor itu dapat memantau lingkungan plasma ionosfer untuk mempelajari mekanisme interaksi antara lingkungan plasma dan stasiun luar angkasa serta pengaruhnya terhadap astronaut dan stasiun luar angkasa tersebut, untuk memastikan keamanan program luar angkasa berawak.Selain deteksi plasma di ionosfer, detektor tersebut dapat digunakan untuk deteksi plasma antarplanet dan deep space.Detektor itu juga dapat berkolaborasi dengan satelit Zhangheng 1 dan L-SAR 01 untuk mewujudkan deteksi gabungan ionosfer global.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi: AI dan pembelajaran mesin dapat dengan sukses diagnosis PCOS
Indonesia
•
02 Oct 2023

Kru Shenzhou-18 rampungkan ‘spacewalk’ pertama
Indonesia
•
30 May 2024

Tim ilmuwan berhasil rakit genom gandum telomer-ke-telomer pertama di dunia
Indonesia
•
17 Apr 2025

Keistimewaan roket pengangkut Long March-2F milik China
Indonesia
•
02 Dec 2022


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
