
Tim ilmuwan China pimpin penemuan jamur parasit berusia 100 juta tahun

Penggembala Qime Garde menunjukkan jamur ulat yang baru dipanen di wilayah Biru di Nagqu, Daerah Otonom Xizang, China barat daya, pada 25 Mei 2022. (Xinhua/Liu Ying)
Dua spesies jamur parasit baru yang terawetkan dalam amber Kachin dan berusia sekitar 100 juta tahun dari Myanmar, memberikan bukti penting untuk penelitian koevolusi jamur dan serangga.
Nanjing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim paleontologi internasional yang dipimpin oleh ilmuwan China telah menemukan dua spesies jamur parasit baru, yang terawetkan dalam amber Kachin berusia sekitar 100 juta tahun dari Myanmar, demikian menurut Institut Geologi dan Paleontologi Nanjing (Nanjing Institute of Geology and Palaeontology (NIGPAS) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences).Penemuan ini memberikan bukti penting untuk meneliti koevolusi jamur dan serangga. Selain itu, penelitian ini menggeser asal-usul jamur semut atau Ophiocordyceps sekitar 30 juta tahun lebih awal dibandingkan perkiraan sebelumnya.Wang Bo, peneliti di NIGPAS yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa Ophiocordyceps adalah istilah umum untuk kelompok jamur parasit. Karena jamur tidak memiliki struktur yang keras dan mudah membusuk, bukti fosil Ophiocordyceps sangat langka, sehingga pemahaman tentang asal-usul dan evolusinya terbatas.Dua spesies fosil baru yang ditemukan ini mempertahankan struktur jamur secara utuh, memungkinkan perbandingan langsung dengan spesies yang masih hidup. Dengan menggunakan metode analitis beresolusi tinggi seperti Micro CT (Micro-Computed Tomography), para peneliti menemukan inang parasitnya.Para peneliti juga mengumpulkan dan menganalisis data genetik dari 120 spesies Ophiocordyceps yang masih hidup. Dengan menggunakan fosil baru sebagai referensi, mereka merekonstruksi hubungan filogenetik di dalam Ophiocordyceps dan merevisi waktu asal-usulnya."Hasil penelitian menunjukkan bahwa asal-usul Ophiocordyceps seharusnya sekitar 130 juta tahun yang lalu pada awal periode Cretaceous, mundur sekitar 30 juta tahun dibandingkan dengan penelitian sebelumnya," kata Wang.Temuan penelitian ini dipublikasikan secara daring pada Rabu (11/6) di Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Bayi panda penangkaran dengan bobot tubuh terberat di dunia lahir di China
Indonesia
•
18 Aug 2022

Penelitian: Pilek dapat disembuhkan dengan hidung yang hangat
Indonesia
•
08 Dec 2022

Studi ungkap grafena dapat ekstrak emas dari limbah elektronik secara efisien
Indonesia
•
16 Aug 2022

Lahan basah Heihe di China barat laut jadi surga burung migran
Indonesia
•
24 Jul 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
