
Ekonomi ASEAN+3 diproyeksikan tumbuh 4,1 persen pada 2026, didorong AI dan semikonduktor

Seorang pria mengunjungi Pameran Semikonduktor Internasional China (China International Semiconductor Expo) ke-22 di Beijing, ibu kota China, pada 23 November 2025. (Xinhua/Pan Xu)
Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Kawasan ASEAN Plus Tiga (ASEAN+3), yang terdiri dari negara-negara anggota ASEAN ditambah China, Jepang, dan Korea Selatan, diperkirakan akan membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,1 persen pada 2026, demikian disampaikan Kantor Riset Ekonomi Makro ASEAN+3 (ASEAN+3 Macroeconomic Research Office/AMRO) pada Senin (27/7).
Menurut pembaruan kuartalan AMRO mengenai prospek ekonomi regional, perkiraan tersebut sedikit lebih tinggi daripada perkiraan 4 persen pada Juni.
AMRO mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa membaiknya prospek tersebut didorong oleh momentum berkelanjutan di sektor teknologi, terutama permintaan yang kuat terhadap semikonduktor dan produk-produk terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) lainnya, serta kondisi harga komoditas global yang lebih mendukung.
Konsumsi rumah tangga yang kuat, investasi yang tangguh, serta ekspor semikonduktor dan elektronik yang kuat diperkirakan akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan, kata AMRO.
Aktivitas manufaktur terus berkembang karena gangguan pasokan energi dan input industri ternyata tidak separah perkiraan semula, tambahnya.
"ASEAN+3 tetap tangguh, didukung oleh permintaan domestik yang kuat dan peran sentralnya dalam rantai pasokan AI global," kata Kepala Ekonom AMRO Dong He.
Dia mengatakan bahwa dampak konflik di Timur Tengah ternyata juga tidak separah perkiraan semula, meskipun biaya energi dan input yang tinggi terus menimbulkan risiko terhadap inflasi dan aktivitas industri.
Sementara itu, inflasi utama (headline inflation) diproyeksikan sebesar 1,6 persen pada 2026, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,8 persen, yang mencerminkan ekspektasi penurunan harga komoditas global.
Menurut AMRO, tekanan inflasi secara umum masih terkendali, dengan kenaikan harga terutama terkonsentrasi pada energi dan transportasi. Namun, AMRO memperingatkan bahwa inflasi pangan berpotensi meningkat seiring kenaikan biaya input dan kondisi cuaca buruk yang memengaruhi harga.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penjualan NEV China pada Juni 2023 diperkirakan capai rekor tertinggi dalam sejarah
Indonesia
•
05 Jul 2023

Direktur pelaksana WEF: China berperan penting dalam transisi global menuju ekonomi hijau
Indonesia
•
05 Jul 2023

Kepala ECB serukan peningkatan integrasi perdagangan di tengah ketegangan perdagangan AS-UE
Indonesia
•
21 Mar 2025

China Daratan kembali buka penuh perjalanan ke/dari Hong Kong dan Makau
Indonesia
•
06 Feb 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Piraeus hingga Jakarta-Bandung, kisah visi Xi Jinping tentang pembangunan bersama
Indonesia
•
11 Aug 2026

Turkiye makin diminati wisatawan China, 245.000 berkunjung dalam enam bulan
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari lengan robot hingga AI, begini teknologi China yang mulai membidik Indonesia
Indonesia
•
10 Aug 2026

Jepang dihantam gelombang kebangkrutan, 1.028 perusahaan gulung tikar dalam sebulan
Indonesia
•
10 Aug 2026
