Penelitian ungkap Dataran Tinggi Qinghai-Xizang jadi kawasan penyerap karbon yang sangat penting

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 22 Juni 2024 ini menunjukkan pemandangan Danau Serling Tso di Daerah Otonom Xizang, China barat daya. (Xinhua/Tenzin Nyida)
Ekosistem Dataran Tinggi Qinghai-Xizang menyerap sekitar 120 hingga 140 juta ton karbon dioksida (CO2) setiap tahunnya, menyumbang 10 hingga 16 persen dari total penyerap karbon ekosistem di China.
Lhasa (Xinhua/Indonesia Window) – Ekosistem Dataran Tinggi Qinghai-Xizang menyerap sekitar 120 hingga 140 juta ton karbon dioksida (CO2) setiap tahunnya, menyumbang 10 hingga 16 persen dari total penyerap karbon ekosistem di China, menurut berbagai temuan ekspedisi ilmiah dan penelitian Dataran Tinggi Qinghai-Xizang kedua yang dirilis pada Ahad (18/8).Mengingat dataran tinggi tersebut saat ini mengeluarkan 55 juta ton CO2 setiap tahun, surplus karbonnya mencapai lebih dari 65 juta ton per tahun, ujar Yao Tandong, seorang akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) sekaligus pemimpin survei penelitian ilmiah tersebut, dalam sebuah konferensi pers di Lhasa.Yao menambahkan bahwa permafrost seluas 1,4 juta km persegi di dataran tinggi itu menyimpan sekitar 37 miliar ton karbon organik, yang merupakan 60 persen lebih dari total cadangan karbon tanah di dataran tinggi tersebut."Namun, potensi pencairan permafrost yang dalam akibat pemanasan iklim di masa depan dapat menimbulkan risiko terhadap kapasitas sekuestrasi karbonnya," kata Yao.Sistem Berbasis Pengamatan Global untuk Memantau Gas Rumah Kaca (Global Observation-based System for Monitoring Greenhouse Gas/GONGGA) yang dikembangkan secara independen oleh tim survei penelitian ilmiah tersebut, merupakan alat yang sangat penting untuk memperkirakan penyerap karbon alami.GONGGA mengintegrasikan pemodelan pergerakan atmosfer, pengamatan konsentrasi CO2, dan inventarisasi emisi CO2 untuk secara akurat menilai kapasitas penyerap karbon pada ekosistem Dataran Tinggi Qinghai-Xizang.Sistem ini tidak hanya mendukung tujuan ‘karbon ganda’ China dengan data ilmiah yang penting, tetapi juga menyediakan data dan metodologi China yang berharga untuk penghitungan dan penilaian karbon internasional."Ke depannya, fungsi penyerap karbon di dataran tinggi dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan menyempurnakan kualitas ekosistem padang rumput dan hutan," sebut Yao.China memprakarsai ekspedisi dan penelitian ilmiah kedua di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang pada Agustus 2017, dengan tujuan untuk mengungkap mekanisme perubahan lingkungan dan memberikan dukungan ilmiah untuk keamanan ekologis dataran tinggi tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Raksasa teknologi China Huawei luncurkan model AI terbaru
Indonesia
•
19 Jul 2023

Penelitian: Emisi karbon meningkat tajam di 20 negara terkaya dunia
Indonesia
•
14 Oct 2021

Uganda pertimbangkan penggunaan teknologi digital untuk tingkatkan konservasi satwa liar
Indonesia
•
22 Feb 2024

Satelit astronomi Einstein Probe milik China singkap fakta baru alam semesta
Indonesia
•
03 Nov 2024
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
