
Peneliti Indonesia eksplorasi mikroorganisme lokal untuk tingkatkan kualitas fermentasi biji kopi

Ilustrasi. (Mark Daynes on Unsplash)
Eksplorasi biodiversitas mikroorganisme lokal yang meliputi isolasi bakteri asam laktat, bakteri asam asetat, dan khamir (yeast) pada fermentasi biji kopi di Pulau Jawa memiliki potensi besar sebagai kultur starter.
Jakarta (Indonesia Window) – Eksplorasi biodiversitas mikroorganisme lokal yang meliputi isolasi bakteri asam laktat, bakteri asam asetat, dan khamir (yeast) pada fermentasi biji kopi di Pulau Jawa memiliki potensi besar sebagai kultur starter.Riset tersebut dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) bekerja sama dengan Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) Universitas Gadjah Mada (UGM), serta PT Kirana Tata Nagari, dikutip dari laman BRIN, Ahad.Peneliti PRTPP-BRIN, Titiek Farianti Djaafar, menjelaskan penelitian tersebut bertujuan untuk meningkatkan mutu biji kopi melalui pemanfaatan mikroorganisme lokal sebagai kultur starter pada fermentasi biji kopi.“Pada tahap awal penelitian ini akan dilakukan isolasi dan identifikasi mikroorganisme lokal dari fermentasi biji kopi. Penelitian dilanjutkan dengan produksi kultur starter lokal dan fermentasi biji kopi skala laboratorium. Dengan menggunakan kultur starter lokal tersebut, kami akan menguji karakteristik fisik, kimia, mikrobiologis, dan evaluasi sensoris hasil fermentasinya,” jelasnya.Pengujian tersebut dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan standar internasional untuk biji kopi fermentasi. “Harapannya biji kopi hasil fermentasi ini dapat diekspor oleh PT Kirana Tata Nagari,” jelas Titiek.Selain itu, eksplorasi biodiversitas mikroorganisme lokal juga mencakup penapisan isolat lokal terhadap aktivitas antijamur penghasil mikotoksin. “Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang rentan terhadap cemaran jamur penghasil mikotoksin seperti Aspergillus flavus dalam penanganan pascapanennya,” terangnya.Titiek melanjutkan, jamur tersebut menghasilkan toksin yang dikenal sebagai Okratoksin A. Dia menekankan pentingnya pengurangan atau pencegahan kontaminasi jamur penghasil mikotoksin bersama dengan pengguna teknologi, seperti PT Kirana Tata Nagari, untuk mempertahankan kualitas dan menghindari kerugian ekonomi.Kerja sama penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan produk kultur starter lokal yang dapat dimanfaatkan dalam fermentasi biji kopi skala industri guna menghasilkan biji kopi fermentasi berkualitas tinggi, bebas dari cemaran jamur penghasil mikotoksin, dan bercita rasa tinggi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Satelit relai China beroperasi lancar, siap dukung misi Bulan global
Indonesia
•
20 May 2025

IAEA sebut ketinggian air di kolam pendingin PLTN Zaporizhzhia terus menurun
Indonesia
•
05 Aug 2024

Anggota parlemen Ukraina di Taiwan ingin belajar keamanan siber
Indonesia
•
25 Oct 2022

China mulai studi kelayakan untuk konstelasi komputasi cerdas berbasis luar angkasa
Indonesia
•
06 Apr 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
