Penelitian sebut El Nino lebih kuat buat Antarktika mencair dan tak bisa pulih

Foto yang disediakan oleh Esmee Van Wijk dan CSIRO pada 21 Februari 2023 ini memperlihatkan Gletser Totten, gletser besar yang mengeringkan sebagian besar Lapisan Es Antarktika Timur. (Sumber: Esmee Van Wijk dan CSIRO)
El Nino lebih kuat dapat mempercepat pemanasan di perairan dalam di lempeng Antarktika, membuat lempengan es dan lapisan es mencair lebih cepat.
Canberra, Australia (Xinhua) – Peristiwa El Nino yang lebih kuat di masa depan dapat menyebabkan peristiwa mencairnya lempengan dan lapisan es yang tidak dipulihkan di Antarktika, demikian diperingatkan dalam sebuah penelitian Australia.El Nino adalah fase yang lebih hangat dari Osilasi Selatan El Nino (El Nino Southern Oscillation/ENSO) yang terjadi di atas Samudra Pasifik timur tropis, dan dengan fase yang lebih dingin, La Nina, memengaruhi kondisi cuaca di seluruh dunia.Studi baru itu, yang diterbitkan oleh Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization/CSIRO), lembaga ilmu pengetahuan nasional, pada Selasa (21/2), menunjukkan bahwa variabilitas ENSO mengurangi pemanasan di dekat permukaan laut, tetapi mempercepat pemanasan di perairan yang lebih dalam.Cai Wenju, penulis utama studi tersebut, mengatakan temuan tersebut penting untuk mengembangkan pemahaman tentang bagaimana Antarktika akan dipengaruhi oleh perubahan iklim."Perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan skala ENSO, menjadikan El Nino dan La Nina lebih kuat," katanya."Penelitian baru ini menunjukkan bahwa El Nino yang lebih kuat dapat mempercepat pemanasan di perairan dalam di lempeng Antarktika, membuat lempengan es dan lapisan es mencair lebih cepat."Dia mengatakan pemodelan ini juga mengungkap bahwa pemanasan di sekitar tepi es laut yang mengapung melambat selama proses ini, memperlambat pencairan es laut di dekat permukaan.Cai dan timnya memeriksa 31 model iklim di bawah skenario emisi tinggi.Model-model dengan variabilitas ENSO yang meningkat menunjukkan berkurangnya pembalikan massa air (upwelling) di perairan yang dalam dan lebih hangat sebagai akibat dari angin barat yang intensitasnya lebih rendah, menyebabkan pemanasan permukaan laut yang lebih lambat.Ariaan Purich dari Monash University, salah satu penulis dalam studi itu, mengatakan bahwa variabilitas El Nino Southern Oscillation dapat memiliki implikasi yang luas terhadap iklim global.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Fosil kalajengking laut berumur 450 juta tahun ditemukan di China
Indonesia
•
18 May 2023

Proyek megafactory baru Tesla di Shanghai resmi diluncurkan
Indonesia
•
23 Dec 2023

China mulai pengeboran ‘superdeep borehole’ kedua
Indonesia
•
22 Jul 2023

Telaah – Terobosan AI DeepSeek dapat pengakuan luas dari industri teknologi AS
Indonesia
•
14 Feb 2025
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
