
Tim ilmuwan identifikasi peran estrogen dalam nyeri usus parah pada perempuan

Ilustrasi. (julien Tromeur on Unsplash)
Estrogen mengaktifkan jalur kolon (usus besar) yang meningkatkan pelepasan hormon usus PYY, yang selanjutnya merangsang produksi serotonin dan membuat saraf penghantar nyeri menjadi sensitif.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan telah mengidentifikasi mekanisme seluler yang menjelaskan mengapa perempuan mengalami nyeri usus kronis yang lebih parah dibandingkan laki-laki, dengan mengaitkan perbedaan tersebut dengan hormon estrogen.Para peneliti di Australia dan Amerika Serikat (AS) melaporkan dalam jurnal Science bahwa estrogen merupakan faktor utama penyebabnya, demikian bunyi pernyataan Institut Riset Kesehatan dan Medis Australia Selatan (South Australian Health and Medical Research Institute/SAHMRI) pada Jumat (9/1)."Kami menemukan bahwa estrogen secara langsung memperkuat komunikasi antara dua jenis sel usus khusus, sehingga memicu peningkatan sensitivitas terhadap sinyal nyeri pada perempuan," kata profesor SAHMRI Stuart Brierley, yang melakukan penelitian ini bersama para ilmuwan dari Universitas California, San Francisco.Estrogen mengaktifkan jalur kolon (usus besar) yang meningkatkan pelepasan hormon usus PYY, yang selanjutnya merangsang produksi serotonin dan membuat saraf penghantar nyeri menjadi sensitif, ujar Brierley, yang juga berasal dari Universitas Adelaide, Australia."Jika kami dapat menginterupsi jalur ini pada titik yang tepat, kami mungkin dapat mengurangi nyeri usus kronis tanpa memengaruhi fungsi pencernaan normal dari hormon-hormon tersebut," katanya.Penemuan ini merupakan langkah besar menuju pengembangan terapi yang lebih personal untuk kondisi nyeri usus kronis seperti sindrom iritasi usus besar, serta gangguan nyeri viseral parah lainnya, seperti endometriosis, demikian sebut pernyataan itu.Studi ini juga menunjukkan bahwa estrogen meningkatkan respons usus terhadap asam lemak rantai pendek yang dihasilkan ketika bakteri mengurai makanan, sehingga menjelaskan mengapa intervensi pola makan seperti diet rendah FODMAP dapat mengurangi gejala pada sebagian orang."Kami kini memahami bahwa makanan tertentu dapat memengaruhi jalur yang sensitif terhadap estrogen ini melalui metabolit yang dihasilkannya," kata Brierley, seraya menambahkan bahwa temuan ini memberikan dasar biologis yang lebih jelas mengenai mengapa perubahan pola makan dapat membantu serta bagaimana hal tersebut dapat disempurnakan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Sampel tanah Bulan dari misi Chang'e-5 China jadi sorotan di Bangkok, Thailand
Indonesia
•
30 Jul 2024

China perbarui peta jalan pengembangan untuk penangkapan karbon
Indonesia
•
10 Dec 2024

Laporan ungkap 2023 jadi tahun terpanas di China sejak 1951
Indonesia
•
08 Feb 2024

Wuling umumkan akan produksi baterai canggih secara lokal di Indonesia
Indonesia
•
22 Sep 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
