
Pakar sebut cetak biru tata kelola global AI usulan China harus ditindaklanjuti

Orang-orang mengunjungi ekshibisi bertema paus di Museum Maritim Nasional China di Kota Tianjin, China utara, pada 29 Juli 2023. Museum Maritim Nasional China merupakan museum kelautan komprehensif tingkat nasional yang mengintegrasikan koleksi, pameran, penelitian, dan pendidikan di China. Pada musim panas tahun ini, museum itu mengaplikasikan teknologi digital seperti proyeksi digital dan interaksi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pameran bertema paus untuk menyuguhkan peng...
Tata Kelola Kecerdasan Buatan Global yang diluncurkan oleh China akan diterima oleh komunitas global di saat berbagai negara berusaha untuk mengelola kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
London, Inggris (Xinhua) – Inisiatif Tata Kelola Kecerdasan Buatan Global yang diluncurkan oleh China akan diterima oleh komunitas global di saat berbagai negara berusaha untuk mengelola kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ujar seorang akademisi asal Inggris."Prinsip-prinsip (dari inisiatif ini) diuraikan dengan baik. Unsur-unsur perlindungan hak asasi manusia, perlindungan data, cara kita menangani kolaborasi internasional, inklusivitas, dan menghindari bias tercakup dalam prinsip-prinsip ini," kata Madeleine Stevens, seorang dosen senior di Liverpool John Moores University, kepada Xinhua dalam sesi wawancara baru-baru ini.Diluncurkan dalam Forum Sabuk dan Jalur Sutra untuk Kerja Sama Internasional ketiga yang digelar di Beijing pada 18 Oktober, inisiatif tersebut menyajikan pendekatan konstruktif untuk mengatasi kekhawatiran universal terkait pengembangan dan tata kelola AI."Inisiatif ini mencakup prinsip-prinsip yang luar biasa. Saya sangat berharap prinsip-prinsip dan inisiatif ini dapat diterima dan ditindaklanjuti," ujar Stevens.AI sudah muncul sejak lama, tetapi "tingkat kemajuan AI yang kita hadapi saat ini memiliki tantangan fundamental yang menurut saya kita belum siap untuk menghadapinya," katanya menambahkan.Saat ini, tidak ada panduan yang jelas di seluruh dunia maupun secara global tentang bagaimana AI harus dikelola, yang merupakan sebuah "risiko besar," kata Stevens.Merujuk pada inisiatif baru China itu, pakar itu berujar, "Saya setuju bahwa ada baiknya kita memiliki titik awal tentang bagaimana kita harus atau setidaknya mempertimbangkan bagaimana kita harus mengelola AI."Pendekatan yang berpusat pada manusia dalam pengembangan AI, sebagaimana diuraikan dalam inisiatif ini, merupakan fokus utama yang tidak boleh diabaikan, sambungnya."Ini merupakan prinsip yang bagus untuk dimasukkan ke dalam inisiatif tata kelola AI. Ini tentang melindungi hak asasi manusia dan tidak menggantikan elemen manusia yang membuat kita unik melalui perangkat lunak atau kecerdasan buatan generatif," ujarnya.Dia juga menyambut baik inisiatif yang menentang penggunaan AI untuk memanipulasi opini publik, menyebarkan disinformasi, dan sebagainya."Kami tahu hal ini sudah terjadi pada para pemilih, pemilihan umum... Banyak hal yang dihasilkan oleh AI tidak akurat, dan ini menjadi risiko besar. (AI) melenceng," kata Stevens.Dia memuji saran dari inisiatif China bahwa negara-negara maju harus membantu negara-negara berkembang untuk menjembatani kesenjangan dalam kapasitas AI."Saya pikir, ini merupakan saran yang bagus agar negara-negara maju memimpin dalam hal ini dan membantu lebih banyak negara berkembang dengan AI... Kita tidak bisa membiarkan ada negara yang tidak tercakup dan berada dalam risiko. Hal ini akan berdampak pada dunia secara global jika kita gagal menyertakan semua negara," imbuhnya."Menurut saya, ini inisiatif yang luar biasa, dan kita tidak punya pilihan. Kita harus sepenuhnya inklusif dalam pendekatan pengelolaan AI," ujar pakar tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Perangi pemanasan global, China luncurkan satelit pelacak metana
Indonesia
•
16 Oct 2024

China luncurkan program internasional untuk dorong penelitian ‘matahari buatan’
Indonesia
•
25 Nov 2025

Lubang raksasa di Aceh Tengah kian melebar, peneliti BRIN ungkap penyebabnya
Indonesia
•
23 Feb 2026

Laporan sebut kenaikan suhu dalam setahun terakhir lampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius
Indonesia
•
09 Feb 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
