
Tim ilmuwan kembangkan model AI untuk prediksi suar bintang

Gambar yang disediakan oleh Beijing Normal University ini menunjukkan suar surya dengan lontaran massa korona. (Xinhua/Beijing Normal University)
FLARE memanfaatkan platform penelitian cerdas terintegrasi ScienceOne untuk menganalisis data bintang dan memperkirakan letusan magnetik pada bintang.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China mengembangkan FLARE, sebuah model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mutakhir yang dirancang untuk memprediksi suar bintang, menjadikannya alat transformatif untuk penelitian astronomi, demikian diumumkan oleh Institut Automasi (Institute of Automation) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) pada Selasa (27/5).Model yang dikembangkan bersama oleh para peneliti dari Institut Automasi CAS dan Observatorium Astronomi Nasional CAS ini memanfaatkan platform penelitian cerdas terintegrasi ScienceOne untuk menganalisis data bintang dan memperkirakan letusan magnetik pada bintang.Suar bintang adalah semburan energi tiba-tiba yang disebabkan oleh pelepasan medan magnet di atmosfer bintang. Mereka menyimpan petunjuk penting untuk memahami struktur bintang, evolusi, aktivitas magnetik, dan potensi eksoplanet laik huni, kata Chen Yingying, peneliti dari Institut Automasi."Penelitian menunjukkan bahwa berbagai sifat fisik bintang, seperti usia, kecepatan rotasi, dan massa, serta catatan suar historis, secara signifikan terkait dengan suar bintang," ungkap Chen.Namun, data pengamatan yang terbatas menghambat penelitian yang komprehensif. Memprediksi waktu terjadinya suar bintang secara akurat menjadi tugas penting dalam studi astronomi, imbuhnya.Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa FLARE mengatasi kesenjangan itu dengan mengintegrasikan sifat fisik bintang dengan catatan suar historis melalui arsitekturnya yang unik, yang menggabungkan modul soft prompt dan modul fusi catatan residual, untuk meningkatkan ekstraksi fitur dari kurva cahaya sehingga secara signifikan dapat meningkatkan akurasi prediksi.Secara khusus, model ini menunjukkan tingkat kemampuan adaptasi tertentu, yang memungkinkan prediksi suar secara tepat berdasarkan pola kurva cahaya yang bervariasi dari bintang-bintang yang berbeda.Bahkan untuk bintang yang sama dengan pola variabilitas yang berbeda, prediksi yang tepat masih dapat dicapai, tutur Chen.Makalah penelitian yang merinci pengembangan FLARE telah diterima oleh Konferensi Gabungan Internasional tentang Kecerdasan Buatan (International Joint Conference on Artificial Intelligence) ke-34, sebuah konferensi AI global terkemuka.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Bumi menjadi “tenang” selama masa “lockdown”
Indonesia
•
06 Apr 2020

Wahana robotik buatan China jelajahi bagian bawah es Arktika
Indonesia
•
09 Oct 2023

Dua astronaut AS rampungkan ‘spacewalk’ komersial pertama
Indonesia
•
14 Sep 2024

Studi: Melindungi ikan jadi kunci untuk cegah ledakan populasi bintang laut di Great Barrier Reef
Indonesia
•
02 Dec 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
