
COVID-19 – Pejabat sebut China transparan tentang temuan studi pelacakan asal-usul virus

Seorang dokter mencatat informasi dari seorang penduduk desa untuk pemeriksaan kesehatan di klinik Desa Yaragzi di Xihxu yang berada di wilayah Yecheng, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut, pada 2 Mei 2020. (Xinhua/Hu Huhu)
Hasil pelacakan asal-usul SARS-CoV-2 yang dilakukan oleh pemerintah China telah ditolak oleh beberapa pejabat dan pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini.
Beijing, China (Xinhua) – Seorang pejabat kesehatan China pada Sabtu (8/4) dalam sebuah konferensi pers mengatakan bahwa China telah bersikap transparan dalam membagikan hasil penelitian tentang pelacakan asal-usul SARS-CoV-2 kepada masyarakat internasional.Berbicara tentang penolakan hasil penelitian oleh beberapa pejabat dan pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini, pejabat itu mengatakan bahwa langkah semacam itu memolitisasi isu tersebut dan tidak dapat diterima oleh komunitas ilmiah di China dan dunia secara keseluruhan.“Setelah merebaknya COVID-19, kami menggunakan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan untuk pelacakan asal-usul, yang merupakan persoalan ilmu pengetahuan, dan secara aktif terlibat dalam komunikasi dan koordinasi dengan WHO,” kata Shen Hongbing, Wakil Kepala Administrasi Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Nasional China sekaligus Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China.“Menanggapi resolusi pada sesi ke-73 Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA), kami memimpin dan berinisiatif untuk mengundang WHO guna mengirim pakar-pakar internasional ke China sebanyak dua kali untuk kerja sama dalam studi gabungan tentang asal-usul virus tersebut,” terangnya.Dia melanjutkan, “Selama studi fase pertama, China memberikan semua informasi yang dimilikinya terkait pelacakan asal-usul kepada misi gabungan. Kami tidak menyembunyikan kasus, sampel, atau hasil pengujian dan analisis apa pun yang berkaitan dengan itu.”“Baru-baru ini, beberapa pejabat dan pakar WHO menyampaikan pernyataan yang menolak hasil penelitian tersebut. Hal ini bertentangan dengan semangat ilmu pengetahuan,” ujarnya.“Ini merupakan penghinaan terhadap para ilmuwan yang berpartisipasi dalam studi fase pertama dan ketidakadilan terhadap mereka. Ini tidak dapat diterima dan tidak dapat ditoleransi oleh komunitas ilmu pengetahuan China, serta tidak dapat diterima oleh komunitas ilmu pengetahuan global,” tegas Shen.“Kami berharap bahwa dengan cara yang berbasis ilmu pengetahuan dan didorong oleh para ilmuwan, kita akan dapat memperkuat pertukaran, kerja sama, dan aktivitas berbagi informasi, serta memajukan pelacakan asal-usul di jalur ilmu pengetahuan,” katanya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Razia ponsel di sekolah Arab Saudi dianggap ilegal
Indonesia
•
01 Nov 2022

Tingkat stres di Jerman capai rekor tertinggi di tengah meningkatnya tekanan pribadi dan krisis global
Indonesia
•
28 Nov 2025

2 lambang bulan sabit baru dipasang di menara Masjidil Haram
Indonesia
•
13 Jun 2023

UNHCR: Pengungsi internal di Somalia tembus 420.000 orang dalam 10 bulan pertama 2024
Indonesia
•
22 Nov 2024


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
