
Ilmuwan temukan tabung nano karbon berdinding tunggal dan karbon grafit di sampel Bulan Chang'e-6

Foto menunjukkan sampel Bulan, yang dibawa ke Bumi oleh misi Chang'e-6, di laboratorium sampel Bulan di Observatorium Astronomi Nasional Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) di Beijing, ibu kota China, pada 24 September 2024. (Xinhua/Jin Liwang)
Tabung-tabung nano karbon berdinding tunggal dan karbon grafit ditemukan di dalam sampel Bulan yang dikumpulkan oleh misi Chang'e-6, memberikan wawasan penting mengenai evolusi geologis Bulan.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia WIndow) – Tim peneliti baru-baru ini berhasil mengidentifikasi dan mengonfirmasi kemunculan alami tabung-tabung nano karbon berdinding tunggal dan karbon grafit di dalam sampel Bulan yang dikumpulkan oleh misi Chang'e-6, memberikan wawasan penting mengenai evolusi geologis Bulan, demikian diumumkan Administrasi Luar Angkasa Nasional China (China National Space Administration/CNSA) pada Selasa (20/1).
Tim peneliti dari Universitas Jilin di China timur laut melakukan analisis sistematis terhadap sampel dari sisi jauh Bulan menggunakan beberapa teknik mikroskopi dan spektroskopi. Studi mereka menandai identifikasi pertama yang tak terbantahkan tentang karbon grafit di Bulan, sekaligus investigasi terhadap kemungkinan proses pembentukan dan evolusinya.
Studi tersebut menjadi konfirmasi internasional pertama bahwa tabung nano karbon berdinding tunggal dapat terbentuk secara alami tanpa campur tangan manusia. Temuan ini menyoroti kecanggihan proses fisika-kimia berenergi tinggi di permukaan Bulan serta memberikan bukti adanya proses geologis yang lebih aktif di sisi jauh Bulan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan tabung-tabung nano karbon tersebut kemungkinan berkaitan erat dengan reaksi yang dikatalisasi oleh besi, yang didorong oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk tumbukan mikrometeorit, aktivitas vulkanik, dan iradiasi angin surya sepanjang sejarah Bulan. Temuan ini menunjukkan kemampuan alam untuk menyintesis material canggih dalam kondisi ekstrem.
Dalam sebuah studi yang membandingkan sampel sisi jauh Bulan dari misi Chang'e-6 dan sampel sisi dekat Bulan dari misi Chang'e-5, tim peneliti juga mengamati adanya karakteristik cacat yang lebih menonjol pada struktur karbon dalam sampel sisi jauh Bulan. Perbedaan ini diduga berkaitan dengan riwayat terjangan mikrometeorit yang lebih intens di sisi jauh Bulan. Temuan tersebut kian menguatkan adanya asimetri yang baru dikenali dalam komposisi dan evolusi antara sisi dekat dan sisi jauh Bulan.
Temuan-temuan terkait telah dipublikasikan baru-baru ini dalam jurnal Nano Letters.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Masuki tahun keempat, kekeringan parah terus bayangi sejumlah wilayah di Spanyol
Indonesia
•
15 Oct 2024

Jaringan Wi-Fi difasilitasi di 842 pesawat penerbangan sipil China
Indonesia
•
11 Jan 2022

OpenAI luncurkan peramban baru Atlas, tantang dominasi Google secara langsung
Indonesia
•
28 Oct 2025

Penelitian sebut lebih dari 200 gletser utama di Italia hilang akibat perubahan iklim
Indonesia
•
11 Aug 2022


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
