
Jalur pipa CO2 akan hubungkan Jerman-Norwegia untuk simpan karbon bawah tanah

Pembangkit listrik Jerman telah mengeluarkan lebih banyak gas rumah kaca pada 2013 dibandingkan tahun lalu terlepas dari kebijakan energi di negara itu, demikian dilaporkan oleh sebuah surat kabar Jerman pada Sabtu (27/8/2022). (Xinhua)
Penangkapan dan penyimpanan karbon akan dilakukan dengan jalur pipa sepanjang 900 kilometer, yang akan dibangun pada 2032 mendatang untuk mengangkut CO2 (karbon dioksida) dari sebuah pusat energi di Jerman utara ke lokasi penyimpanan di Norwegia.
Jakarta (Indonesia Window) – Wintershall Dea dari Jerman dan Equinor dari Norwegia telah sepakat untuk bekerja sama dalam sebuah proyek Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) di Laut Utara, demikian diungkapkan oleh kedua perusahaan gas dan minyak itu dalam pernyataan gabungan pada Selasa (30/8).Jalur pipa sepanjang 900 kilometer akan dibangun pada 2032 mendatang untuk mengangkut CO2 (karbon dioksida) dari sebuah pusat energi di Jerman utara ke lokasi penyimpanan di Norwegia. Menurut kedua perusahaan tersebut, kapasitas transportasi akan mencapai 20 hingga 40 juta metrik ton CO2 per tahun, mewakili sekitar 20 persen dari total emisi industri tahunan Jerman.Kerja sama itu haruslah "menghasilkan solusi teknis dan komersial" bagi pengembangan rantai nilai CCS lintas perbatasan di Eropa, kata CEO Wintershall Dea Mario Mehren. Kedua perusahaan akan bekerja sama dengan pemerintah untuk "membentuk sebuah kerangka peraturan yang dapat memungkinkan hal ini."Pada situasi tertentu, transportasi dan penyimpanan bawah tanah sudah dapat dimulai sebelum pembangunan jalur pipa tersebut rampung. Dalam kasus ini, CO2 untuk sementara akan diangkut dengan kapal."Ini merupakan kemitraan energi yang kuat, yang mendukung kebutuhan klaster-klaster industri Eropa untuk melakukan dekarbonisasi dalam kegiatan operasional mereka," ujar CEO Equinor Anders Opedal. Lisensi untuk penyimpanan lepas pantai 15 hingga 20 juta metrik ton CO2 per tahun rencananya akan diperoleh bersama.Penangkapan dan penyimpanan CO2 saat ini tidak memungkinkan di Jerman karena sejumlah negara bagian federal Jerman menggunakan klausul opt-out. Kerja sama antara Wintershall Dea dan Equinor saat ini menghubungkan Jerman, penghasil CO2 terbesar di Eropa, dengan Norwegia, ‘yang memiliki potensi penyimpanan CO2 terbesar di Eropa.’Tidak seperti di Norwegia, penyimpanan CO2 di tanah secara luas dianggap berisiko di Jerman. "Jika terjadi kebocoran, efek berbahaya pada air tanah dan tanah dapat terjadi," demikian Badan Lingkungan Hidup Federal (UBA) Jerman memperingatkan.
Kanselir Jerman Olaf Scholz menghadiri pertemuan khusus Dewan Eropa di markas besar Uni Eropa di Brussel, Belgia, pada 30 Mei 2022. (Xinhua/Zheng Huansong)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China kembangkan teknologi untuk produksi bahan kimia industri yang berkelanjutan
Indonesia
•
21 Oct 2024

Konstelasi satelit komersial China akan sediakan layanan internet untuk Brasil
Indonesia
•
22 Nov 2024

Studi ungkap pergerakan manusia 40 kali lebih besar dibandingkan gabungan seluruh hewan liar
Indonesia
•
01 Nov 2025

Peneliti China kembangkan ‘drone multirotor bi-wing’
Indonesia
•
25 Nov 2023


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
