
Peneliti ungkap potensi jamur 'Dark Septate Endophytes' untuk tingkatkan produktivitas lahan di Indonesia

Seorang petani sedang menggarap lahan singkong di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 19 September 2019. (Indonesia Window)
Jamur Dark Septate Endophytes (DSE) berperan dalam memperbaiki sifat fisik, biologi, dan kimia tanah, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai agen hayati untuk biofertilizer (pupuk organik), bioremediasi, biocontrol, dan biodekomposer.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Peneliti postdoctoral Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT) pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Marhani, mengatakan bahwa Indonesia memiliki berbagai tipe lahan yang memerlukan peningkatan produktivitas.Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pemanfaatan kelompok jamur Dark Septate Endophytes (DSE). "Jamur DSE merupakan kelompok jamur endofit yang dapat memacu pertumbuhan dan produktivitas berbagai tanaman, terutama di kondisi stres lingkungan," ujar Marhani dalam webinar bertema ‘DSE and Their Role to Control Plant Pathogens and Improve Plant Growth’, di Bogor, Rabu (31/7).DSE berperan dalam memperbaiki sifat fisik, biologi, dan kimia tanah, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai agen hayati untuk biofertilizer (pupuk organik), bioremediasi, biocontrol, dan biodekomposer, jelasnya.Peneliti postdoctoral lainnya, Mariani, menambahkan bahwa DSE juga berperan sebagai pengendali hayati terhadap patogen yang memengaruhi tanaman budi daya. "Kemampuan ini berasal dari senyawa metabolit yang dihasilkan oleh DSE yang bersifat antimikroba, sehingga dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman," terangnya.Berbagai arah penelitian masa depan juga dipaparkan, termasuk eksplorasi efek sinergis konsorsium DSE dengan agen pengendalian hayati lainnya, seperti Trichoderm sp, mikoriza, dan mikroba lainnya.Sementara itu, peneliti PRMT BRIN, Surono, yang membimbing kedua peneliti postdoctoral tersebut, telah melakukan riset panjang tentang DSE dan peran ekologinya dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) serta cekaman abiotik (kekeringan dan cemaran logam berat)."Pengungkapan potensi DSE tropis dari berbagai wilayah di Indonesia masih perlu diteruskan agar berontribusi dalam upaya memajukan dan menyejahterakan masyarakat Indonesia," tuturnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China perkenalkan pakaian luar angkasa untuk pendaratan Bulan pertama
Indonesia
•
29 Sep 2024

‘Digital Watermarking’ amankan dan verifikasi data digital
Indonesia
•
06 Jun 2026

Penelitian: amandemen belerang dapat kurangi kontaminasi tanah
Indonesia
•
10 Aug 2021

Peneliti China kembangkan teknologi baru untuk produksi propilena
Indonesia
•
25 Dec 2023


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
