Anak berusia 7 tahun sukses jalani operasi jantung artifisial terkecil di dunia

Seorang dokter memeriksa kondisi anak laki-laki yang menjalani pemasangan alat bantu biventrikular (biventricular assist device/BiVAD) dengan suspensi magnetis saat operasi pencangkokan di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, pada 14 April 2025. (Xinhua/Liu Kunwei)
Jantung artifisial, atau alat bantu ventrikel (ventricular assist device/VAD), dapat mendukung fungsi jantung untuk sementara, tetapi model-model yang ada di pasaran dapat menyebabkan kerusakan pada sistem darah atau dirancang khusus untuk orang dewasa.
Wuhan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun di China yang menderita gagal jantung stadium akhir menjadi pasien termuda di dunia yang menjalani pemasangan alat bantu biventrikular (biventricular assist device/BiVAD) dengan suspensi magnetis, jantung artifisial paling kecil dan paling ringan yang ada di pasaran.Operasi tersebut, yang dilakukan pada bulan ini di Rumah Sakit Persatuan (Union Hospital) yang berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Tongji Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan, China tengah, menandai terobosan yang dapat mengubah pengobatan penyakit jantung pada anak secara global, demikian disampaikan oleh para dokter pada Selasa (15/4).Anak laki-laki yang menggunakan nama samaran Junjun itu menerima jantung baru yang bobotnya hanya 45 gram dan berdiameter 2,9 cm.Dia didiagnosis menderita kardiomiopati dilatasi (dilated cardiomyopathy) pada Mei 2024 dan setelahnya mengalami syok kardiogenik (cardiogenic shock) yang parah. Karena kesulitan menemukan donor jantung yang cocok dengan golongan darah O anak laki-laki tersebut, tim dokter pun beralih ke jantung artifisial buatan dalam negeri.Tim yang dipimpin oleh ahli bedah jantung Dong Nianguo melakukan operasi pencangkokan selama lima jam. Junjun mulai dapat bernapas sendiri keesokan harinya, dan fungsi jantungnya terus meningkat, kata tim dokter."Berkat tim dokter, anak kami kini memiliki kesempatan untuk bertahan hidup dan menunggu donor," kata ayah Junjun. "Begitu peradangannya sembuh, kami bisa pulang ke rumah."Gagal jantung pada anak masih menjadi tantangan kesehatan global. Di China, sekitar 40.000 anak yang mengalami gagal jantung parah dirawat di rumah sakit setiap tahun, dengan 7 hingga 10 persen sangat membutuhkan transplantasi jantung. Namun, kurang dari 100 transplantasi pada anak dilakukan setiap tahunnya karena jumlah donor jantung yang sangat sedikit.Jantung artifisial, atau alat bantu ventrikel (ventricular assist device/VAD), dapat mendukung fungsi jantung untuk sementara, tetapi model-model yang ada di pasaran dapat menyebabkan kerusakan pada sistem darah atau dirancang khusus untuk orang dewasa."Anak-anak bukanlah orang dewasa dengan tubuh yang lebih kecil. Mereka membutuhkan jantung artifisial yang dirancang khusus untuk mereka," tutur Dong.Rumah sakit tersebut menjalin kemitraan dengan Shenzhen Core Medical Technology Co., Ltd. pada 2021 untuk mengembangkan perangkat suspensi magnetis generasi ketiga, yang menawarkan berbagai keunggulan seperti konsumsi daya rendah, masa pakai baterai lebih lama, peningkatan stabilitas untuk pemindahan darurat, dan kendali kecepatan rotasi berpresisi, serta dapat disesuaikan secara waktu nyata (real time) guna memenuhi kebutuhan peredaran darah sang pasien."China membuat kemajuan signifikan dalam pengobatan penyakit jantung stadium akhir, berkembang dari 'pengikut' menjadi 'pemimpin' di bidang-bidang tertentu," kata Xia Jiahong, presiden rumah sakit tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

China lanjutkan kerja sama penguatan lingkungan penelitian ilmiah internasional
Indonesia
•
02 Oct 2023

WWF: Populasi harimau liar di dunia meningkat signifikan
Indonesia
•
30 Jul 2024

China buka penawaran publik untuk proyek satelit pengindraan jauh Bulan
Indonesia
•
16 Feb 2025

AS luncurkan misi baru yang libatkan ‘spacewalk’ komersial pertama
Indonesia
•
12 Sep 2024
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
