Jenazah sandera terakhir dipulangkan, Israel bebaskan 9 warga Palestina yang ditahannya

Para pelayat menyalati jenazah dalam upacara pemakaman tiga jurnalis Palestina, yang tewas akibat serangan udara Israel pada Rabu (21/1), di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 22 Januari 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Israel membebaskan sembilan warga Palestina yang ditahannya dari Jalur Gaza. Kesembilannya tiba di Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, beberapa jam setelah militer Israel mengumumkan ditemukannya jenazah terakhir warga Israel yang disandera di Gaza.

 

Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Israel pada Senin (26/1) membebaskan sembilan warga Palestina yang ditahannya dari Jalur Gaza. Kesembilannya tiba di Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, beberapa jam setelah militer Israel mengumumkan ditemukannya jenazah terakhir warga Israel yang disandera di Gaza.

Langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi perjanjian gencatan senjata yang dicapai antara Israel dan Hamas pada Oktober 2025.

Dalam sebuah pernyataan pers, rumah sakit itu mengatakan bahwa para tahanan tiba melalui fasilitasi Komite Palang Merah Internasional setelah dibebaskan oleh otoritas Israel melalui perlintasan Kerem Shalom.

Sebelumnya pada Senin yang sama, militer Israel mengumumkan penemuan jenazah Ran Gvili (24), anggota unit patroli elite Yasam Kepolisian Israel, yang tewas pada 7 Oktober 2023 dan jenazahnya saat itu dibawa ke Gaza.

Dalam sebuah pernyataan pers, Hamas mengatakan pihaknya telah melakukan "upaya signifikan" untuk menemukan jasad Gvili, dan menyerukan kepada Israel untuk sepenuhnya menerapkan seluruh ketentuan dalam perjanjian gencatan senjata, termasuk membuka kembali perlintasan Rafah, mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan menarik diri sepenuhnya dari Jalur Gaza.

Pada September 2025, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan sebuah rencana perdamaian tiga tahap yang terdiri dari 20 poin, yang bertujuan untuk mengakhiri konflik Israel-Hamas yang pecah pada Oktober 2023. Namun, kedua belah pihak berulang kali menuduh satu sama lain melakukan pelanggaran selama tahap pertama kesepakatan itu setelah gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025.

Sebelumnya pada bulan ini, pemerintahan Trump mengumumkan peluncuran tahap kedua dari rencana perdamaian tersebut, yang mengalihkan fokus dari gencatan senjata ke demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait