
AS pertimbangkan pemberlakuan kembali kebijakan penahanan keluarga migran

Tentara Garda Nasional Texas berdiri di dekat para migran di Eagle Pass, Texas, Amerika Serikat, pada 24 Juli 2022. (Xinhua/Nick Wagner)
Kebijakan penahanan keluarga migran yang melintasi perbatasan AS secara ilegal – yang ditiadakan oleh pemerintahan Joe Biden dalam dua tahun terakhir karena sang presiden menginginkan sistem imigrasi yang lebih manusiawi – mungkin akan hidupkan kembali guna menangani lonjakan jumlah migran yang melarikan diri dari pemerintah otoriter dan kehancuran ekonomi di negara asal mereka.
New York City, AS (Xinhua) – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali kebijakan penahanan keluarga migran yang melintasi perbatasan secara ilegal, kebijakan yang sama yang ditiadakan oleh Biden dalam dua tahun terakhir karena sang presiden menginginkan sistem imigrasi yang lebih manusiawi, menurut laporan The New York Times (NYT) pada Senin (6/3).Meskipun belum ada keputusan final yang diambil, langkah tersebut akan menjadi kemunduran besar bagi Biden, yang pada awal masa jabatannya berjanji untuk mengadopsi pendekatan yang lebih simpatik di perbatasan setelah kebijakan keras yang diterapkan oleh pendahulunya, mantan presiden Donald J. Trump, tulis laporan itu.Pemerintahan Biden telah mengakhiri sebagian besar praktik penahanan keluarga dan melepaskan keluarga-keluarga ke AS untuk sementara waktu dan memberi mereka gelang kaki, ponsel yang dapat dilacak, atau metode lain untuk melacak mereka, menurut laporan itu."Namun, pemerintah telah beralih ke langkah-langkah yang lebih restriktif karena mereka kesulitan dalam menangani lonjakan jumlah migran yang melarikan diri dari pemerintah otoriter dan kehancuran ekonomi di negara asal mereka. Para pejabat juga mengkhawatirkan lonjakan di perbatasan setelah 11 Mei, ketika kebijakan kesehatan masyarakat yang memungkinkan pihak berwenang untuk dengan cepat mengusir migran berakhir masa berlakunya," katanya."Mengakhiri praktik penahanan keluarga yang tidak manusiawi tersebut merupakan satu dari segelintir keputusan kebijakan imigrasi yang positif dari pemerintahan Biden," demikian dikutip dari Leecia Welch, seorang pengacara utama dalam kasus yang mengarah pada kesepakatan Flores 1997, yang membatasi waktu yang dapat dihabiskan anak-anak dalam penahanan dan menetapkan standar minimum untuk fasilitas penahanan."Sungguh menyedihkan mendengar kemungkinan bahwa praktik pada era Trump ini akan kembali diterapkan," kata Welch.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Anak-anak Gaza berbagi pengalaman hidup memilukan akibat perang
Indonesia
•
22 Nov 2024

Pemenang Nobel Rusia jual medali senilai 1,5 triliun rupiah untuk anak-anak Ukraina
Indonesia
•
21 Jun 2022

FAO peringatkan Gaza berisiko tinggi alami kelaparan akut
Indonesia
•
29 Jun 2024

Kementerian Pertahanan Afghanistan ubah bekas pangkalan militer AS jadi rumah sakit
Indonesia
•
22 Feb 2025


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
