Feature – Kebun teh terasering inspirasi ekologis di China timur

Foto dari udara yang diabadikan pada 22 April 2024 ini menunjukkan lahan terasering tanaman teh yang terletak di Desa Wugongling, wilayah Shexian, Provinsi Anhui, China timur. (Xinhua/Shui Jinchen)
Kebun teh terasering di Desa Wugongling, wilayah Shexian, Provinsi Anhui, China timur, berada di ketinggian lebih dari 800 meter, dan dulunya merupakan lereng gunung yang terjal dan tandus.
Hefei, China (Xinhua) – Bagi banyak petani teh di Desa Wugongling di China timur, April merupakan masa panen.Pukul 04.30 waktu setempat, Fang Dongyu (70) sudah bangun. Dengan keranjang bambu tersampir di bahunya, Fang menyalakan lampu di kepalanya, dan dengan lancar menaiki tangga batu yang basah untuk memetik daun teh."Kami biasanya selesai memetik daun pada pukul 16.00, kemudian menjualnya ke pabrik-pabrik teh yang berada di kaki gunung," ujar Fang. Dirinya bercerita bahwa keluarganya memiliki kebun teh seluas 9 mu (1 mu = 0,06 hektare) yang dapat menghasilkan pendapatan lebih dari 10.000 yuan dalam satu musim.Ini adalah Desa Wugongling di wilayah Shexian, Provinsi Anhui, China timur. Sulit membayangkan bahwa kebun teh terasering khusus itu terletak di ketinggian lebih dari 800 meter, dan dulunya merupakan lereng gunung yang terjal dan tandus. Untuk mengubah lebih dari 1.000 mu lereng bukit yang curam menjadi kebun teh terasering pada 1960-an, dibutuhkan keterlibatan lebih dari 400 warga desa selama 13 tahun untuk merampungkannya.Pada 2023, sistem terasering perkebunan teh dimasukkan dalam ‘Batch Ketujuh Sistem Warisan Pertanian Penting Nasional China’.Menengok kembali ke tahun 1960-an ketika program transformasi baru saja dimulai, Fang masih dapat mengingat banyak detailnya. "Saat itu saya baru berusia 13 atau 14 tahun. Kami membentuk 'tim komando wanita' untuk mengebor lubang, meledakkan gunung, dan mengangkut bebatuan," katanya, seraya menambahkan bahwa semua warga desa ingin membuat perubahan di gunung tandus tersebut."Tanamlah tanaman dan pohon teh meski di pegunungan tandus". Slogan kala itu masih terpampang di tebing tersebut. Namun tidak mudah untuk mengubah lereng dengan kemiringan lebih dari 40 derajat dan lebih rendah dari 70 derajat. Lahan terasering pertama, yang luasnya lebih dari 10 mu, tersapu air setelah hujan deras."Pada awalnya, desa tersebut menginginkan kebun teh terasering menjadi datar dan indah, namun hal itu sebenarnya tidak sesuai dengan hukum alam," ujar Fang Jincai, sekretaris Partai di Desa Wugongling, seraya menyebutkan bahwa setelah penyelidikan lapangan dan analisis kondisi alam, warga desa memutuskan untuk membangun kebun dan sistem drainase sesuai dengan kondisi medan dan hidrolik yang sebenarnya.Setelah hujan ringan di musim semi, terasering dipenuhi kabut tipis, bagaikan surga di bumi. Menurut Fang Peiming, wakil direktur biro pertanian dan urusan pedesaan wilayah Shexian, penyesuaian dengan kondisi setempatlah yang menjadikan kebun teh terasering ini begitu istimewa.
Foto yang diabadikan pada 22 April 2024 ini menunjukkan Fang Dongyu, seorang petani teh sedang memetik daun teh di lahan yang terletak di Desa Wugongling, wilayah Shexian, Provinsi Anhui, China timur. (Xinhua/Shui Jinchen)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

WHO setujui vaksin mpox pertama untuk penggunaan global
Indonesia
•
14 Sep 2024

Bagaskara 88 bantu penanggulangan COVID-19
Indonesia
•
22 Apr 2020

Pameran Cheng Ho di Jakarta perkuat kerja sama budaya China-Indonesia
Indonesia
•
12 Jul 2025

PBB minta masyarakat internasional bantu genjot perekonomian Yaman
Indonesia
•
17 Jan 2023
Berita Terbaru

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026

30.000 lebih pekerja layanan kesehatan gelar aksi mogok kerja di California, AS
Indonesia
•
27 Jan 2026
