Kedipan mata bisa bantu pasien lumpuh kendalikan kursi roda

Seorang warga lansia mencoba kursi roda listrik di bawah arahan para sukarelawan dalam acara perayaan Festival Chongyang di Kota Rugao, Provinsi Jiangsu, China timur, pada 29 Oktober 2025. (Xinhua/Qiu Yu)

Energi dari kedipan mata dapat membantu individu yang mengalami kelumpuhan mengendalikan sejumlah perangkat seperti kursi roda, menawarkan terobosan potensial dalam teknologi alat bantu.

 

Jinan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah peneliti di China telah mengembangkan sistem pelacakan mata bertenaga mandiri yang memanfaatkan energi dari kedipan mata untuk membantu individu yang mengalami kelumpuhan mengendalikan sejumlah perangkat seperti kursi roda, menawarkan terobosan potensial dalam teknologi alat bantu.

Sistem interaksi manusia-komputer bertenaga mandiri semakin menarik perhatian besar berkat kinerjanya yang berkelanjutan, sensitif, dan stabil, yang dipicu oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Sebagaimana dilaporkan dalam jurnal Cell Reports Physical Science bulan ini, sistem tersebut menggunakan nanogenerator bernama TENG untuk menangkap gesekan mikro yang terjadi di antara kelopak mata dan bola mata saat berkedip. Energi yang dihimpun menenagai sensor, menghilangkan kebutuhan akan baterai eksternal.

Perangkat yang diberi nama ET-TENG ini dikembangkan oleh tim-tim dari Universitas Qingdao dan Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Hong Kong, dan mampu mendeteksi gerakan mata halus dengan presisi tinggi. Perangkat ini terbukti dapat mengidentifikasi sudut defleksi bola mata minimal 2 derajat dengan akurasi 99 persen. Perangkat itu juga dapat berfungsi dalam kondisi gelap gulita, mengatasi keterbatasan pelacak mata berbasis kamera tradisional yang bergantung pada sumber cahaya eksternal.

Teknologi tersebut dapat memungkinkan individu dengan kondisi seperti amyotrophic lateral sclerosis (ALS), yang masih dapat menggerakkan mata, untuk mengoperasikan komputer atau kursi roda, menurut studi tersebut.

Selain bantuan medis, tim itu menyebutkan bahwa sistem ini dapat diterapkan dalam eksplorasi luar angkasa untuk panel kontrol bebas genggam (hands-free), dalam kendaraan pintar untuk pemantauan kelelahan pengemudi, dan dalam menjadikan perangkat jemala (headset) realitas virtual (virtual reality/VR) lebih ringan dan hemat energi.

Sensitivitas tinggi, struktur sederhana, dan kemampuan antiinterferensi kuat yang dimiliki perangkat ini memberikan dukungan teknis untuk mendorong penerapan di bidang interaksi manusia-komputer, menurut para peneliti. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait