
Ketahanan pangan global terancam makin dalam di tengah ketegangan Timur Tengah

Seorang petani mengoperasikan mesin pemanen di sebuah ladang gandum di Provinsi Sweida, Suriah selatan, pada 2 Juli 2022. (Xinhua/Ammar Safarjalani)
Gangguan di Selat Hormuz, rute utama bagi perdagangan minyak, gas, dan pupuk global, berpotensi meningkatkan biaya di seluruh sistem pangan berbasis pertanian dan memberikan tekanan tambahan bagi perekonomian-perekonomian rentan.
Roma, Italia (Xinhua/Indonesia Window) – Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah berpotensi meningkatkan risiko terhadap ketahanan pangan global, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor pangan, pupuk, dan bahan bakar, ujar Maximo Torero, kepala ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam sesi wawancara dengan Xinhua baru-baru ini, Torero menuturkan krisis itu mengekspos kerentanan negara-negara yang memiliki keterbatasan dalam produksi domestik dan sangat mengandalkan rute pasokan eksternal.
"Garis pemisah yang sesungguhnya tidak sekadar antara negara kaya dan miskin," tuturnya. "(Melainkan) antara mereka yang memiliki cadangan domestik dan yang tidak."
Dalam sebuah laporan terbaru, FAO memperingatkan bahwa gangguan yang terjadi di sekitar Selat Hormuz, rute utama bagi perdagangan minyak, gas, dan pupuk global, berpotensi meningkatkan biaya di seluruh sistem pangan berbasis pertanian (agrifood) dan memberikan tekanan tambahan bagi perekonomian-perekonomian rentan.
Torero menyatakan bahwa beberapa negara Teluk sangat rentan meski kaya, mengingat mereka sangat bergantung pada impor pangan dan perdagangan via jalur laut. Sumber daya keuangan mungkin dapat memberikan solusi jangka pendek, ujar Torero, namun tidak dapat menggantikan rute pasokan yang terganggu.
Dia juga menyoroti Asia Selatan dan sejumlah wilayah di Afrika sub-Sahara sebagai kawasan yang patut dicermati. Di kawasan tersebut, guncangan terhadap pasokan pupuk dan energi dapat dengan cepat memengaruhi produksi pertanian, terutama saat musim tanam. Negara-negara dengan ruang fiskal yang terbatas akan menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam menyerap biaya impor yang lebih tinggi atau melakukan pembelian darurat, urai Torero.
"Bagi negara-negara berpendapatan rendah yang telah menggunakan input pertanian dalam jumlah sangat terbatas, pemangkasan pasokan sekecil apa pun dapat menyebabkan kerugian produksi yang sangat besar," papar Torero.
Peringatan itu disampaikan saat FAO terus memantau pasar pangan global. Torero mengatakan pemerintah-pemerintah tidak semestinya hanya mengandalkan harga pangan sebagai sinyal awal tekanan, tetapi juga memantau harga pupuk, pasokan gas ke pabrik pupuk, arus pengiriman, dan biaya asuransi maritim.
Dia menyoroti sulfur sebagai faktor sangat penting yang kerap terabaikan. Meski tidak banyak dibahas dibandingkan minyak atau gas, sulfur merupakan bahan yang sangat penting untuk memproduksi pupuk fosfat, dan gangguan terhadap pasokannya dapat menimbulkan dampak meluas yang melampaui zona konflik.
"Pertanian beroperasi berdasarkan tenggat waktu biologis," ujar Torero. "Jika periode tanam utama terlewatkan, intervensi di kemudian hari tidak dapat sepenuhnya memulihkan kerusakan yang terjadi."
Dia juga memperingatkan bahwa pengurangan penggunaan pupuk tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan output yang proporsional, seraya menyatakan bahwa dalam sistem pertanian yang rentan, pengurangan sekecil apa pun dapat menyebabkan penurunan hasil panen yang jauh lebih tajam.
Seiring konflik terus memengaruhi pasar energi, pupuk, dan pengiriman, tindakan dini akan diperlukan untuk memitigasi risiko tekanan yang lebih luas terhadap sistem pangan global, ujar Torero.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China tolak tegas sanksi Kanada terhadap entitas China
Indonesia
•
26 Feb 2025

Ekonomi Jerman kembali melambat dan turun tipis pada Q2 2024
Indonesia
•
29 Aug 2024

Komentar Xinhua: Panen biji-bijian musim panas China ringankan beban dunia yang dilanda inflasi
Indonesia
•
19 Jul 2023

Nilai perdagangan kota Shenzhen dengan ASEAN tembus 1.028 triliun rupiah pada 2022
Indonesia
•
23 Nov 2022


Berita Terbaru

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026

Sertifikat asal dari bea cukai China timur laut fasilitasi produk China masuki pasar Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Permintaan cip tetap kuat di tengah ketegangan geopolitik
Indonesia
•
07 May 2026
