
Tim ilmuwan China dan Swiss rancang cip hemat energi yang menyerupai otak manusia

Foto kombinasi tak bertanggal berikut ini menunjukkan sebuah diagram (kiri) dan dua foto cip neuromorfis komputasi penginderaan hemat energi bernama 'Speck', yang meniru neuron dan sinapsis otak manusia. (Xinhua/Institut Automasi CAS)
Komputasi neuromorfis atau komputasi yang menyerupai otak menawarkan kecerdasan mesin hemat energi yang menjanjikan.
Beijing, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China dan Swiss bersama-sama mengembangkan cip neuromorfis komputasi penginderaan hemat energi yang meniru neuron dan sinapsis otak manusia.Otak manusia, yang mampu memproses jaringan saraf yang sangat rumit dan luas, beroperasi dengan total konsumsi daya hanya 20 watt, jauh lebih rendah daripada sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini. Oleh karena itu, komputasi neuromorfis atau komputasi yang menyerupai otak ini menawarkan kecerdasan mesin hemat energi yang menjanjikan.Para peneliti dari Institut Automasi di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) dan SynSense AG Corporation di Swiss membuat cip asinkron yang dinamai ‘Speck’, yang memiliki konsumsi daya istirahat sangat rendah, yakni hanya 0,42 miliwatt, artinya cip tersebut nyaris tidak mengonsumsi energi saat tidak terdapat input.Meniru karakteristik ‘ketidakseimbangan dinamis’ dari jaringan saraf otak yang melonjak, tim ilmuwan itu berhasil merancang sebuah kerangka kerja berbasis perhatian di mana rangsangan eksternal yang signifikan sering kali menarik lebih banyak perhatian dari otak.Kerangka kerja tersebut mampu memenuhi tuntutan algoritmik komputasi dinamis, mencapai daya secara waktu nyata (real-time) serendah 0,70 miliwatt, menurut studi yang diterbitkan baru-baru ini dalam jurnal Nature Communications.Terobosan ini menawarkan penerapan AI solusi cerdas yang terinspirasi dari otak yang ditandai dengan efisiensi energi luar biasa, latensi yang minim, serta konsumsi daya yang lebih rendah, ujar Li Guoqi, salah satu penulis dalam studi itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China luncurkan roket pengangkut Lijian-2 Y1
Indonesia
•
31 Mar 2026

Studi: Kepunahan dinosaurus dimulai 2 juta tahun lebih awal dari yang diyakini sebelumnya
Indonesia
•
24 Sep 2022

Bencana kegagalan teknologi global ganggu perjalanan udara AS selama empat hari beruntun
Indonesia
•
25 Jul 2024

Fokus Berita – Misi Chang'e-6 tunjukkan tekad China dalam jalankan kerja sama antariksa internasional
Indonesia
•
09 Jun 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
