Pakar Rusia sebut revolusi digital ubah lanskap energi global

Sebuah robot yang dapat bernyanyi terlihat dalam Forum Kebudayaan Bersatu Internasional St. Petersburg ke-10 di St. Petersburg, Rusia, pada 12 September 2024. (Xinhua/Irina Motina)
Konsumsi energi dari inovasi-inovasi digital, seperti mata uang kripto dan kecerdasan buatan, dapat segera menyaingi konsumsi energi dari keseluruhan sebuah negara.
Moskow, Rusia (Xinhua) – Mata uang kripto, teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan pusat-pusat pemrosesan data membentuk ulang lanskap energi global, kata Igor Sechin, CEO raksasa minyak Rusia Rosneft, seraya memperingatkan bahwa konsumsi energi dari inovasi-inovasi digital tersebut dapat segera menyaingi konsumsi energi dari keseluruhan sebuah negara.Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, mata uang kripto telah berevolusi menjadi industri independen yang mengonsumsi sumber daya yang setara dengan ekonomi suatu negara, katanya, seraya menambahkan bahwa pada 2030, konsumsi listrik mata uang kripto diproyeksikan meningkat dua kali lipat menjadi 1.000 terawatt-jam, yang setara dengan konsumsi listrik Jepang saat ini.Rusia mengadopsi undang-undang penambangan mata uang kripto tahun lalu. Berdasarkan ketentuannya, badan hukum Rusia, pengusaha perorangan, dan warga negara berhak untuk terlibat dalam penambangan.Badan hukum dan pengusaha perorangan harus dimasukkan dalam daftar Layanan Pajak Federal untuk tujuan ini. Sementara itu, warga negara dapat terlibat dalam penambangan mata uang digital tanpa harus masuk dalam daftar tersebut selama tidak melebihi batas konsumsi energi yang ditetapkan oleh pemerintah.Selain mata uang kripto, Sechin juga menjelaskan bahwa revolusi digital yang digerakkan oleh AI dan mahadata (big data) akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja, namun keduanya membutuhkan input energi yang besar, serta investasi berskala besar dalam hal infrastruktur dan sumber daya manusia.Menurutnya, industri energi global sedang menghadapi transformasi besar dan model konsumsi energi sedang berubah.Mengutip data dari Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), Sechin mengatakan bahwa pusat pemrosesan data yang dilengkapi dengan AI sangat boros energi. Sebagai contoh, satu pusat data 100 megawatt dapat menggunakan daya setara 100.000 rumah tangga.Dengan permintaan yang kemungkinan akan meningkat puluhan kali lipat, dia memperkirakan bahwa di masa depan, pusat pemrosesan data seperti itu akan memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap permintaan listrik global dibandingkan dengan industri berat atau pemanas.Selama 15 tahun terakhir, konsumsi listrik telah tumbuh dengan laju yang lebih cepat. Menurut proyeksi IEA, pembangkitan listrik global akan meningkat hampir dua kali lipat dalam 25 tahun ke depan.Pada saat yang sama, negara-negara di kawasan Asia-Pasifik diperkirakan akan menjadi pendorong terbesar dari pertumbuhan ini, yang menyumbang 60 persen dari peningkatan konsumsi listrik global.Industri energi global sedang mengalami transformasi besar, didorong oleh lonjakan konsumsi listrik yang cepat, yang akan semakin dipenuhi oleh campuran bahan bakar fosil dan sumber energi terbarukan, kata kepala Rosneft itu."Para pemimpin teknologi sedang menyusup ke dalam industri minyak dan gas. Selain itu, investasi ini dilakukan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dalam skala global," imbuh Sechin.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Utang luar negeri Indonesia November 2025 menurun
Indonesia
•
17 Jan 2026

China naikkan tarif tambahan untuk impor dari AS jadi 125 persen
Indonesia
•
12 Apr 2025

Arab Saudi pengekspor kurma utama di dunia, nilainya capai 4.651 triliun rupiah
Indonesia
•
28 May 2022

Gubernur PBOC: Kebijakan moneter China dukung pertumbuhan berkualitas tinggi
Indonesia
•
04 Mar 2023
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
