PBB: Serangan Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah picu kenaikan harga global

Sebuah kapal kargo melintasi Terusan Suez di Provinsi Ismailia, Mesir, pada 13 Januari 2024. (Xinhua/Ahmed Gomaa)
Krisis Laut Merah menyebabkan gangguan yang signifikan pada pengiriman biji-bijian dan komoditas penting lainnya dari Eropa, Rusia, dan Ukraina.
PBB (Xinhua) – Serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah menyebabkan anjloknya volume perdagangan Terusan Suez sebesar 42 persen sejak November, demikian dikatakan seorang pejabat perdagangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (25/1).Gangguan ini semakin menambah tekanan terhadap jalur pengiriman di beberapa rute utama lainnya, seperti di Laut Hitam, yang terhambat oleh perang di Ukraina, dan di Terusan Panama, yang menderita akibat rendahnya permukaan air tawar yang disebabkan oleh perubahan iklim, sehingga mengancam kenaikan harga konsumen, kata Jan Hoffmann, Kepala Bagian Fasilitasi Perdagangan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (United Nations Conference on Trade and Development/UNCTAD)."Kami prihatin bahwa serangan terhadap pelayaran Laut Merah menambah ketegangan dalam konteks gangguan perdagangan global akibat geopolitik dan perubahan iklim," kata Hoffmann kepada awak media di markas besar PBB dalam sebuah video pengarahan dari Jenewa. "Gangguan-gangguan ini menegaskan kerentanan dalam perdagangan global."Hoffman menambahkan bahwa perdagangan maritim membawa sekitar 80 persen barang dalam perdagangan dunia, dengan persentase yang bahkan lebih tinggi untuk negara-negara berkembang yang telah mengalami kenaikan biaya pengiriman laut, terutama dalam pengiriman via kapal kontainer dan tanker. Kapal-kapal pengangkut gas, khususnya, tidak berani melewati Laut Merah menuju Suez karena khawatir serangan Houthi dapat memicu ledakan di kapal.Dikatakan oleh UNCTAD bahwa krisis Laut Merah menyebabkan gangguan yang signifikan pada pengiriman biji-bijian dan komoditas penting lainnya dari Eropa, Rusia, dan Ukraina. Situasi ini menyebabkan peningkatan biaya bagi konsumen dan risiko serius bagi ketahanan pangan global, terutama di wilayah-wilayah seperti Afrika Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur, yang sangat bergantung pada impor gandum dari Eropa dan area Laut Hitam.Menurut Hoffmann, gangguan berkepanjangan pada rute perdagangan utama akan mengganggu rantai pasokan global, yang menyebabkan tertundanya pengiriman barang, meningkatnya biaya, dan potensi inflasi. Industri pelayaran telah mengalami dampaknya secara langsung, dengan kenaikan tarif spot dari Asia ke Eropa melebihi level pada 2023.Lebih lanjut dia mengatakan bahwa tarif antara China dan Mediterania telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak awal Desember. Jarak perdagangan yang lebih jauh dan tarif kargo yang lebih tinggi yang disebabkan oleh perjalanan mengelilingi Afrika dapat berdampak ganda pada harga pangan.UNCTAD memperkirakan sekitar separuh dari kenaikan harga pangan yang terjadi pada 2022 disebabkan oleh biaya transportasi yang lebih tinggi.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita – Meski unggul di medan perang, Israel terperosok dalam perang tanpa strategi politik untuk keluar
Indonesia
•
22 Jul 2025

UE gagal sepakati bantuan keuangan senilai 50 miliar euro untuk Ukraina
Indonesia
•
16 Dec 2023

Rusia sebut tersangka serangan teror Moskow berencana kabur ke Kiev untuk terima imbalan
Indonesia
•
31 Mar 2024

7 juta botol air Zamzam didistribusikan di Masjid Nabawi selama pandemik
Indonesia
•
25 Mar 2021
Berita Terbaru

Nilai mata uang Iran anjlok ke level terendah dalam sejarah di tengah tekanan ekonomi
Indonesia
•
29 Jan 2026

Aktivis AS berencana gelar aksi protes kedua, tuntut agen federal hengkang dari Minnesota
Indonesia
•
29 Jan 2026

Badan Pangan PBB akan hentikan operasi di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, akhiri kontrak 360 pegawai
Indonesia
•
29 Jan 2026

Swedia luncurkan program baru untuk tekan kekerasan laki-laki terhadap perempuan
Indonesia
•
29 Jan 2026
