
Tim ilmuwan Antarktika peroleh informasi penting guna pelajari rahasia iklim yang krusial

Foto yang diabadikan pada 8 Januari 2024 ini menunjukkan seekor anjing laut di Laut Amundsen. (Xinhua/Zhou Yuan)
Lapisan Es Antarktika Barat saat ini kehilangan massa "pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Wellington, Selandia Baru (Xinhua) – Tim ilmuwan berhasil mengebor es sedalam 580 meter dan mengumpulkan informasi penting untuk memahami respons Lapisan Es Antarktika Barat di masa lampau terhadap pemanasan iklim.Tim peneliti internasional, yang dipimpin bersama oleh GNS Science, Victoria University of Wellington, dan Antarctica New Zealand, telah memperoleh inti sedimen tertua yang pernah didapatkan dari Pantai Siple yang terpencil, sehingga dapat membantu memahami rahasia iklim yang sangat penting."Ini merupakan ilmu pengetahuan mutakhir dan pekerjaan yang sangat menantang," ujar Richard Levy dari GNS Science dan Victoria University of Wellington pada Rabu (31/1).Inti sedimen yang sangat berharga tersebut diperkirakan berasal dari ratusan ribu tahun silam, bahkan mungkin jutaan tahun yang lalu, kata Levy, seraya menambahkan bahwa rekor itu akan mencakup periode interglasial terakhir pada 125.000 tahun silam, saat Bumi sekitar 1,5 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan suhu praindustri, serupa dengan suhu yang terjadi pada tahun ini akibat perubahan iklim.Tim beranggotakan 27 orang tersebut, yang terdiri dari para ilmuwan, pengebor, dan kru, mendirikan kemah 860 km dari Pangkalan Scott, tinggal dan bekerja di tenda-tenda di atas es sejak akhir November tahun lalu hingga Januari, sebagai bagian dari proyek SWAIS 2C (Sensitivity of the West Antarctic Ice Sheet to 2°C)."Kami berada di garis depan, mengebor lapisan es menuju dasar laut, untuk mendapatkan sampel sedimen yang belum pernah diperoleh siapa pun sebelumnya," ujar Levy, yang juga merupakan salah satu kepala ilmuwan SWAIS 2C.Tina van de Flierdt, pemimpin bersama ilmuwan SWAIS 2C dari Imperial College London, mengatakan bahwa Lapisan Es Antarktika Barat saat ini kehilangan massa "pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.""Ini merupakan salah satu komponen yang paling rentan dalam sistem Bumi terhadap peningkatan pemanasan. Namun, pada dasarnya kita tidak tahu kapan dan seberapa cepat (es) itu akan mencair dan menaikkan permukaan laut global beberapa meter," kata Tina van de Flierdt.Urutan batuan dalam sedimen tersebut akan menunjukkan bagaimana sifat Lapisan Es Antarktika Barat ketika masih agak hangat dibandingkan saat ini, yang akan memberikan gambaran lebih baik tentang bagaimana es Antarktika akan merespons pemanasan di masa depan, bagian mana yang akan meleleh terlebih dahulu, dan bagian mana yang akan tetap bertahan, ujar Levy.Menurut Tina van de Flierdt, ini merupakan sebuah langkah besar menuju tujuan akhir yaitu memulihkan sedimen yang dibutuhkan guna menjawab pertanyaan besar yang sangat penting bagi umat manusia seiring dengan adaptasi dan rencana dunia untuk menghadapi kenaikan permukaan air laut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China pimpin pengajuan paten hijau global dengan pangsa lebih dari 50 persen
Indonesia
•
09 Aug 2024

Rafflesia patma mekar di Kebun Raya Bogor
Indonesia
•
15 Sep 2019

OpenAI akan tutup aplikasi video Sora
Indonesia
•
25 Mar 2026

Transplantasi jantung tanpa waktu iskemik pertama di dunia berhasil dilakukan di Taiwan
Indonesia
•
20 Apr 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
