
Laporan: Ketidakstabilan siklus air picu bencana iklim global pada 2025

Sebuah gunung es terlihat di dekat pantai Pulau Spert, Antarktika, pada 16 Desember 2025. (Xinhua/Yang Shu)
Pemanasan global mengubah cara air bergerak, disimpan, dan bersirkulasi di antara atmosfer, daratan, dan lautan, dengan konsekuensi signifikan bagi masyarakat dan ekosistem.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Berbagai perubahan yang sedang terjadi dalam siklus air global memperparah banjir, kekeringan, dan panas ekstrem pada 2025, menyebabkan ribuan kematian dan kerugian ratusan miliar dolar, demikian menurut sebuah laporan baru pada Rabu (14/1).
Laporan Monitor Air Global (Global Water Monitor) 2025 yang dipimpin oleh Universitas Nasional Australia (Australian National University/ANU) menunjukkan pemanasan global yang terus berlanjut mengubah cara air bergerak, disimpan, dan bersirkulasi di antara atmosfer, daratan, dan lautan, dengan konsekuensi signifikan bagi masyarakat dan ekosistem, papar sebuah rilis pers ANU.
Laporan itu menemukan bahwa hampir 5.000 orang tewas dan sekitar 8 juta orang mengungsi akibat bencana terkait air pada 2025, dengan kerugian ekonomi melampaui 360 miliar dolar AS.
*1 dolar AS = 16.875 rupiah
Kerugian tersebut berasal dari banjir, siklon tropis, kekeringan, dan kebakaran hutan, yang saling berkaitan dan menimbulkan dampak berantai melalui sistem air, pangan, dan energi, kata laporan tersebut.
"Perubahan pada siklus air memengaruhi waktu dan lokasi terjadinya bencana," kata Profesor Albert van Dijk dari Fakultas Lingkungan dan Masyarakat Fenner di Universitas Nasional Australia.
"Pada 2025, banjir, kekeringan, dan bahaya terkait panas berulang kali melanda kawasan yang sama secara beruntun, memperkuat dampak gabungannya," ujar van Dijk, seraya menambahkan bahwa perubahan cepat antara ekstrem basah dan kering, atau disebut 'climate whiplash', membebani sistem air, ekosistem, dan infrastruktur, memperburuk dampak keseluruhan dari peristiwa terkait iklim.
"Laporan tersebut mendokumentasikan bagaimana perubahan dalam kelembapan atmosfer, kondisi tanah dan air tanah, aliran sungai, dan luas permukaan air berkaitan erat dengan banyak bencana iklim paling merusak pada tahun lalu," katanya.
Laporan itu mengaitkan bencana-bencana pada 2025, mulai dari banjir danau glasial di Himalaya hingga siklon ekuator, dengan kondisi panas yang memecahkan rekor. Eropa mencatatkan kasus-kasus kematian akibat panas dan kebakaran hutan, sementara Asia Selatan dan Tenggara menghadapi banjir monsun yang luas.
Para peneliti memperingatkan meningkatnya risiko kekeringan pada 2026 di berbagai kawasan termasuk Mediterania, Tanduk Afrika, Brasil, dan Asia Tengah, dengan potensi banjir yang lebih tinggi di Sahel, Afrika Selatan, Australia Utara, dan sebagian besar Asia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China temukan 2 mineral Bulan baru
Indonesia
•
25 Apr 2026

Penangkapan berlebihan turunkan pertumbuhan ikan global
Indonesia
•
25 Apr 2026

Induk panda raksasa liar dan anaknya tertangkap kamera di China barat daya
Indonesia
•
05 Dec 2022

Vaksin tumor mRNA China disetujui untuk uji klinis
Indonesia
•
19 Aug 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
