
Lumba-lumba langka berkomunikasi dengan pola vokal dan suara yang unik

Ilustrasi. (TJ Fitzsimmons on Unsplash)
Lumba-lumba Burrunan, spesies lumba-lumba yang sangat terancam punah (critically endangered), berkomunikasi menggunakan pola vokal dan suara yang unik.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan Australia berhasil menafsirkan cara lumba-lumba Burrunan, spesies lumba-lumba yang sangat terancam punah (critically endangered), berkomunikasi menggunakan pola vokal dan suara yang unik.Penemuan ini memberikan data yang sangat penting untuk membantu melindungi dan memantau spesies tersebut secara lebih efektif demi mendukung upaya konservasi yang lebih luas, demikian menurut pernyataan dari Universitas Curtin dan Marine Mammal Foundation yang diterbitkan di situs web Science Media Exchange pada Rabu (16/7).Lumba-lumba Burrunan, yang secara resmi diakui sebagai spesies tersendiri pada 2011, hanya ditemukan dalam dua populasi kecil yang menetap di Teluk Port Phillip dan Danau Gippsland, keduanya berada di Victoria, Australia, dengan kurang dari 250 ekor yang masih tersisa, kata para peneliti.Spesies ini terancam kritis akibat hilangnya habitat, polusi, lalu lintas kapal, dan keragaman genetik yang rendah.Para ilmuwan laut telah menyelesaikan analisis mendalam pertama mereka tentang komunikasi lumba-lumba Burrunan. Mereka menafsirkan rekaman suara bawah air berdurasi 21 jam dari 2016 hingga 2023, dan mengidentifikasi lebih dari 12.900 vokalisasi unik, termasuk 3.400 siulan dan 9.500 suara denyut (burst-pulse).Para peneliti mengidentifikasi enam tipe siulan lumba-lumba Burrunan, dengan tipe meninggi’ (upsweep) dan ‘konveks’ (convex) menjadi siulan yang paling sering digunakan. Dari empat kategori suara burst-pulse, tipe ‘menggonggong’ (bark) mendominasi, sedangkan ‘berdecit’ (squeak), ‘berderak’ (creak), dan ‘mengerang’ (moan) juga digunakan dalam repertoar vokal mereka.Kedua populasi memiliki panggilan yang serupa, namun faktor lingkungan menyebabkan lumba-lumba Burrunan di Teluk Port Phillip memiliki repertoar vokal yang lebih seragam dibandingkan dengan lumba-lumba Burrunan di Danau Gippsland, ungkap studi tersebut.Meneliti panggilan lumba-lumba Burrunan sangat penting untuk memantau dan melindungi indikator ekosistem ini, karena data akustik pasif memungkinkan pemantauan berkelanjutan ketika survei visual terbatas, demikian disampaikan dalam studi tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Reruntuhan kompleks bangunan berumur 3.000 tahun ditemukan di China timur
Indonesia
•
26 Oct 2023

Ilmuwan prediksikan mitigasi CO2 dari panel fotovoltaik atap di China pada 2030
Indonesia
•
04 May 2023

Tim gabungan fisikawan China dan internasional capai temuan baru di bidang antimateri
Indonesia
•
23 Aug 2024

Tak ada sinyal? Warga Beijing kini bisa kirim SMS via satelit saat bencana
Indonesia
•
18 Jun 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
