Akademisi Indonesia petakan jalur kolaborasi China-Indonesia usai kunjungi sejumlah desa di Yunnan

Pemandangan persawahan dan perbukitan di Kecamatan Balubur Limbanga, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 13 Oktober 2019. (Indonesia Window)
Mayoritas desa di Indonesia bergantung pada pertanian dengan alam yang elok dan menakjubkan, namun masih kekurangan dalam hal koneksi antara sektor pertanian dan pariwisata.
Kunming, China (Xinhua/Indonesia Window) – Ketika tiga akademisi Indonesia mengunjungi Desa Manluanzhan dan Desa Hebian di Prefektur Otonom Etnis Dai Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, dalam Konferensi Transformasi Pedesaan di China, Asia Selatan dan Asia Tenggara pada 5 hingga 7 Desember, mereka tiba dengan berbagai pertanyaan tentang bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan pengalaman praktis China dalam revitalisasi pedesaan.Setelah perjalanan selama tiga hari di daerah pedesaan di wilayah China barat daya, kunjungan lapangan dan pembicaraan mereka berubah menjadi rencana kerja sama yang jelas antara China dan Indonesia, menyerukan kerja sama bilateral yang lebih erat dan mendalam di bidang pertanian.Rajib Gandi Hidayat, perwakilan Indonesia yang berpartisipasi dalam Inisiatif Wirausaha Pedesaan Global Selatan Universitas Pertanian China-Tencent (China Agricultural University-Tencent Global South Rural Entrepreneurs Initiative), terkesan dengan perpaduan antara pertanian, budaya, dan pariwisata di Desa Hebian, serta penggunaan drone untuk penyemprotan pestisida. Dia mengatakan Indonesia memiliki banyak sumber daya kultural dan ekologis pedesaan, tetapi masih kekurangan dalam hal koneksi antara sektor pertanian dan pariwisata."Saya berharap dapat bermitra dengan berbagai lembaga di China untuk membawa kembali model ini dan mendukung bisnis pedesaan yang dipimpin kaum muda dan bersifat ramah lingkungan," papar Rajib. Dia menambahkan bahwa program ini menyediakan platform yang bermakna bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan baru, meningkatkan kapasitas kewirausahaan dan kepemimpinan, serta memperkuat jaringan internasional.Desa Manluanzhan dan Desa Hebian di Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, merupakan representasi dari revitalisasi pedesaan di China. Melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian seperti Universitas Pertanian China, desa-desa tersebut telah mengembangkan pariwisata dan pertanian modern, menjadikan area pedesaan lebih layak huni sekaligus membantu warga desa meningkatkan pendapatan mereka.Sofyan Sjaf, dekan Fakultas Ekologi Manusia di IPB University, menyadari bagaimana Desa Manluanzhan mempertahankan budaya etnis sekaligus mengembangkan industri teh dan kopinya. Hal ini sejalan dengan pendekatan pembangunan Indonesia, yang berfokus pada pelestarian dan perlindungan tradisi lokal sembari membangun daerah pedesaan.Dia mengatakan bahwa mayoritas desa di Indonesia maupun China bergantung pada pertanian, dan ada banyak cara bagi kedua negara untuk belajar dari satu sama lain, seperti pelatihan bersama antara IPB dan Universitas Pertanian China guna mempertahankan generasi muda di bidang pertanian dan pekerjaan pedesaan.Ahmad Aulia Arsyad, kandidat doktor dari Fakultas Ekologi Manusia IPB University, tengah menggarap Data Desa Presisi untuk merancang ulang sistem lahan dan mendorong transformasi pedesaan di Indonesia, dengan fokus pada Desa Cikarawang di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.Dalam kunjungannya ke Desa Manluanzhan, dia menyaksikan bagaimana koperasi buah tropis yang terorganisasi membantu petani kecil memenuhi permintaan pasar. "Ada banyak aspek yang dapat dipelajari oleh kedua desa ini dari satu sama lain," ujarnya. Menurutnya, menggabungkan pengalaman Indonesia dengan model pertanian kolektif China dapat meningkatkan kekuatan pasar petani kecil, dan menyerukan kerja sama dalam pengelolaan data pedesaan digital.Dengan diluncurkannya Global South Network for Comparative Rural Studies, ketiga akademisi tersebut mendorong pelatihan pemuda gabungan, berbagi teknologi data, dan proyek uji coba agrowisata di Indonesia, dengan tujuan membantu daerah pedesaan di kedua negara berkembang secara inklusif.Konferensi ini diselenggarakan bersama oleh Fakultas Pembangunan Internasional dan Pertanian Global serta Fakultas Humaniora dan Pengembangan Universitas Pertanian China, bersama Institut Nasional untuk Revitalisasi Pedesaan China. Konferensi ini bertujuan untuk mengumpulkan para akademisi dari China serta negara-negara Asia Selatan dan Tenggara untuk berdiskusi dan bersama-sama membangun solusi yang beragam untuk pembangunan pedesaan di negara-negara Global South melalui pertukaran timbal balik, serta berbagi konsep dan pengalaman pembangunan.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Pemerintah targetkan investasi capai 1.200 triliun rupiah pada 2022
Indonesia
•
24 Aug 2021

China catat kenaikan perjalanan kereta jelang Festival Musim Semi
Indonesia
•
23 Jan 2023

Wuling dan BDF Ventura jalin kerja sama pengembangan ekosistem EV di Bali
Indonesia
•
14 Sep 2024

Ekonomi industri China catat pertumbuhan stabil pada 2022
Indonesia
•
12 Jan 2023
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
