
Mengisap vape berpotensi picu kanker

Orang-orang berjalan melewati taman yang ditutup di Sydney, Australia, pada 16 Agustus 2021. (Xinhua/Bai Xuefei)
Vape berbasis nikotin, atau rokok elektronik (e-cigarette), berpotensi memicu kanker paru-paru dan rongga mulut.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Vape berbasis nikotin, atau rokok elektronik (e-cigarette), berpotensi memicu kanker paru-paru dan rongga mulut, menurut tinjauan komprehensif yang dipimpin oleh para peneliti kanker Australia.
Tinjauan karsinogenisitas ini berargumen bahwa mengisap vape dapat menyebabkan kanker secara langsung, terlepas dari perannya sebagai pintu masuk menuju kebiasaan merokok, menurut pernyataan dari Universitas New South Wales (UNSW) Australia pada Selasa (31/3).
Tim multiinstitusional yang dipimpin oleh Adjunct Professor UNSW Bernard Stewart ini terdiri dari apoteker, pakar epidemiologi, pakar bedah toraks, dan pakar kesehatan masyarakat.
Mereka menganalisis studi klinis, eksperimen pada hewan, dan data laboratorium dari 2017 hingga 2025 mengenai bahan kimia dalam rokok elektronik, dan menemukan bukti konsisten mengenai kerusakan DNA, stres oksidatif, peradangan jaringan, serta tumor paru-paru pada tikus yang terpapar aerosol vape.
Tim itu mengidentifikasi sejumlah besar senyawa karsinogenik dalam aerosol rokok elektronik, termasuk senyawa organik volatil dan logam yang dilepaskan dari kumparan pemanas, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Carcinogenesis.
"Sebagian besar orang yang menggunakan rokok elektronik untuk berhenti merokok justru berakhir dalam 'kondisi penggunaan ganda,' tidak mampu meninggalkan kedua kebiasaan tersebut," kata salah satu penulis studi, Lektor Kepala UNSW Freddy Sitas.
"Apa yang kita ketahui dari bukti epidemiologis terbaru di Amerika Serikat (AS) adalah bahwa mereka yang menggunakan vape sekaligus merokok memiliki risiko empat kali lebih tinggi untuk mengidap kanker paru-paru," ujar Sitas.
Kendati demikian, Stewart mengatakan jumlah pasti kasus kanker yang dapat dikaitkan dengan rokok elektronik masih belum jelas. Tinjauan kualitatif ini tidak melibatkan estimasi numerik, karena masih menunggu data jangka panjang pada manusia.
"Rokok elektronik diperkenalkan sekitar 20 tahun lalu. Kita tidak seharusnya menunggu 80 tahun lagi untuk memutuskan apa yang harus dilakukan," ujar Sitas, mendesak pihak regulator agar tidak mengulangi penundaan selama satu abad sebelum merokok secara resmi diakui sebagai penyebab kanker paru-paru.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China bergabung dalam perlombaan rudal baru, bersaing dengan AS dan Rusia
Indonesia
•
20 Oct 2021

China secara aktif percepat pembangunan jaringan komputasi
Indonesia
•
05 Apr 2023

Tim ilmuwan China dan Swiss rancang cip hemat energi yang menyerupai otak manusia
Indonesia
•
04 Jun 2024

Komputer kuantum China berhasil selesaikan tugas AI dengan efisiensi yang ditingkatkan
Indonesia
•
09 Apr 2025


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
