
Menteri Energi Saudi tegaskan komitmen Kerajaan untuk patuhi komitmen nol karbon

Foto dari udara yang diabadikan pada 3 Agustus 2021 ini menunjukkan pembangkit listrik fotovoltaik di Distrik Yunzhou, Kota Datong, Provinsi Shanxi, China utara. (Xinhua/Cao Yang)
Komitmen nol karbon Arab Saudi ditunjukkan dengan berbagai upaya kerja sama perubahan iklim dengan Uni Emirat Arab, saat sektor energi menghadapi tantangan global dalam fluktuasi geopolitik dan inflasi yang tinggi.
Jakarta (Indonesia Window) – Menteri Energi Arab Saudi Abdulaziz bin Salman menegaskan kembali pada Senin (31/10) bahwa negaranya mengerahkan semua upaya untuk mencapai komitmen nol emisi karbon.“Kami sedang berupaya untuk meningkatkan tingkat pemurnian dan mengembangkan hidrogen bersih,” katanya saat berpidato di sesi pembukaan Pameran dan Konferensi Perminyakan Internasional Abu Dhabi (Abu Dhabi International Petroleum Exhibition & Conference/ADIPEC).Abdulaziz bin Salman mengatakan bahwa Kerajaan sedang mengerjakan perubahan iklim bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA).“Arab Saudi dan UEA adalah anggota dalam sejumlah inisiatif untuk menemukan solusi perubahan iklim, dan berupaya untuk mencapai pembangunan berkelanjutan melalui sejumlah proyek penting,” katanya, seraya menekankan perlunya memanfaatkan investasi dan teknologi yang ada untuk mencapai tujuan yang ingin mereka capai di masa depan, termasuk memenuhi komitmen nol emisi karbon.“Apa yang terjadi hari ini tidak akan pernah menghalangi kami untuk fokus pada masa depan, dan kami akan bekerja sama untuk mencapai aspirasi kami, dan kami akan menjadi contoh positif bagi negara-negara penghasil energi,” katanya.Dalam pidatonya, Sultan Ahmed Al Jaber, Menteri Industri dan Teknologi Canggih UEA, dan direktur pelaksana & CEO Grup Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) mengatakan bahwa sektor energi menghadapi tantangan global dalam hal fluktuasi geopolitik dan inflasi yang tinggi.Dia mengatakan, penghentian investasi dalam sumber daya hidrokarbon akan menyebabkan pasar kehilangan produksi tahunan pada tingkat lima juta barel minyak per hari dari pasokan saat ini, karena penurunan alami dalam kapasitas produksi.Panggung energi global sedang mengalami gejolak yang belum pernah terjadi sebelumnya saat ini, kata Al-Jaber sambil menekankan perlunya melihat tantangan sebagai peluang masa depan.ADIPEC adalah salah satu tempat pertemuan di mana para pemimpin dan bisnis bertemu dan mengambil keputusan guna mempercepat perubahan untuk industri minyak. Konferensi Teknis ADIPEC adalah satu-satunya tempat pertemuan teknis terbesar bagi para insinyur dan profesional minyak, gas, dan energi di seluruh dunia, menyediakan akses yang belum pernah ada sebelumnya untuk pengetahuan, inovasi, keahlian teknis, aplikasi, produk, solusi, dan layanan industri terbaru.Diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers, sesi konferensi teknis mencakup berbagai wawasan teknis dan teknik yang luas dan beragam, yang akan mendorong gagasan-gagasan, mengatasi tantangan, menciptakan nilai baru, dan menyoroti inovasi.Sumber: Saudi GazetteLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Proyek pengentasan kemiskinan bantuan China ubah desa miskin terpencil di Kamboja
Indonesia
•
13 May 2024

Singapura catat peningkatan jumlah pecandu narkoba muda
Indonesia
•
14 Feb 2025

Jajak pendapat: Warga Australia tuntut perlindungan daring yang lebih ketat bagi anak-anak
Indonesia
•
01 May 2025

Pemerintah SAR Hong Kong rilis Cetak Biru Pengembangan Pemuda
Indonesia
•
21 Dec 2022


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
