
Washington Post: Dampak kenaikan suhu, AS alami musim nyamuk yang lebih panjang

Anak-anak bermain air di sebuah taman di New York, Amerika Serikat, pada 26 Juli 2021. (Xinhua/Wang Ying)
Musim nyamuk menjadi semakin panjang di sebagian besar wilayah Amerika Serikat (AS), seiring naiknya suhu global akibat perubahan iklim.
New York City, AS (Xinhua/Indonesia Window) – Seiring naiknya suhu global akibat perubahan iklim, musim nyamuk menjadi semakin panjang di sebagian besar wilayah Amerika Serikat (AS). Perkembangan ini dikhawatirkan oleh para ilmuwan dapat meningkatkan risiko wabah penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria, serta penyebaran virus West Nile dan Zika, seperti dikutip dari The Washington Post (WP) pada Kamis (22/8)."Selama empat dekade terakhir, lebih dari dua pertiga wilayah di negara ini telah mengalami peningkatan 'hari nyamuk', yang didefinisikan sebagai hari dengan kelembapan rata-rata setidaknya 42 persen dan suhu antara 50 hingga 95 derajat Fahrenheit (10-35 derajat Celsius)," menurut laporan tersebut.Wilayah Timur Laut, yang mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan wilayah AS lainnya, mengalami peningkatan terbesar hari nyamuk. Di Vermont, misalnya, dalam lima tahun terakhir rata-rata terdapat 17 hari nyamuk lebih banyak dibandingkan dengan periode 1980-2009.Sementara itu, musim nyamuk menjadi lebih pendek di wilayah yang lebih panas seperti Texas, yang lebih sering mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius, sehingga mendorong nyamuk melewati batas fisiologisnya. Meningkatnya prevalensi kekeringan di AS barat daya menyebabkan lebih sedikit hari dengan kelembapan yang cukup bagi nyamuk untuk berkembang biak, menurut laporan tersebut.Data populasi nyamuk yang andal sulit ditemukan. Meskipun beberapa lembaga negara bagian dan lokal di AS terus memantau populasi nyamuk, tidak ada basis data nasional yang komprehensif. Sebagai gantinya, para ilmuwan menggunakan data cuaca untuk memetakan kapan dan di mana populasi nyamuk cenderung berkembang pesat.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kulit lumba-lumba bionik mampu hemat bahan bakar kapal ‘supertanker’ pengangkut minyak mentah
Indonesia
•
19 Jul 2024

Stasiun luar angkasa China capai regenerasi sumber daya oksigen 100 persen
Indonesia
•
19 Apr 2023

Komputer kuantum superkonduktor China telah catatkan lebih dari 10 juta kunjungan global
Indonesia
•
19 Jun 2024

Peneliti kembangkan model ‘deep-learning’ untuk perkiraan aliran sungai dan banjir
Indonesia
•
08 May 2024


Berita Terbaru

Peneliti China kembangkan baterai lithium-sulfur baru untuk bantu ‘drone’ terbang lebih jauh
Indonesia
•
12 May 2026

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026

Atasi tantangan daya tahan, ilmuwan di China lengkapi ‘drone’ dengan ‘jantung hidrogen’
Indonesia
•
12 May 2026

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026
